{"id":6357,"date":"2026-06-29T09:00:34","date_gmt":"2026-06-29T02:00:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/?p=6357"},"modified":"2026-06-29T09:25:40","modified_gmt":"2026-06-29T02:25:40","slug":"misteri-ngantuk-di-madrasah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/misteri-ngantuk-di-madrasah\/","title":{"rendered":"Misteri Ngantuk di Madrasah"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>MAN Riset Institut<\/strong>&nbsp;(MRI).<\/p>\n\n\n\n<p><em>Mengamati yang biasa, menemukan yang bermakna.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Di sudut MAN Kota Magelang terdapat sebuah lembaga penelitian yang keberadaannya belum diakui oleh BRIN, UNESCO, maupun kantin madrasah. Lembaga itu bernama MAN Riset Institut (MRI). Dipimpin oleh peneliti muda bernama Mandra (yang sering kurang kerjaan), MRI meneliti berbagai fenomena kehidupan madrasah: mulai dari nilai ujian, kantuk di kelas, MBG, hingga hal-hal lain yang sering dianggap biasa. Hasil penelitiannya mungkin tidak selalu ilmiah, tetapi mudah-mudahan tetap mengandung hikmah.<br><br><strong>Riset MRI #002 Misteri Ngantuk di Madrasah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Rif\u2019an Anwar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Selain misteri tentang ompreng MBG yang sekuat macan, di dunia pendidikan masih banyak misteri lain yang belum bisa dipecahkan oleh BMKG. Mengapa tugas hari Senin baru dikerjakan Minggu malam? Mengapa bel pulang sekolah lebih merdu dari suara Lyodra? Mengapa selalu ada kuota untuk posting status tapi mendadak habis ketika diminta mengerjakan soal online?<\/p>\n\n\n\n<p>Dan yang paling misterius, mengapa tidur punya hubungan yang erat dengan kegiatan pembelajaran. Mengapa di MAN banyak siswa yang tidur di kelas. Di rumah, kalau orang tua menyuruh tidur jam sembilan malam, kantuk malah <em>lowbat<\/em> dan mata jadi segar seperti habis dicas <em>full<\/em>. Anehnya, begitu guru mulai menjelaskan materi, rasa ngantuk langsung menyerang tanpa diundang. Aneh bin ajaib ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk itu, misteri ini tidak lepas dari pengamatan Mandra. Rasa ingin tahunya yang tinggi mendorongnya untuk mencari tahu hal ihwal kantuk ini. Ia percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa diteliti. Mulai dari hal besar maupun kecil dan tidak penting seperti kantuk ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Mandra melakukan riset pendahuluan dengan amat sederhana. Riset awal menunjukkan bahwa ngantuk ditimbulkan oleh kondisi karena kurang tidur. Menurut Badan Gizi Nasional, tidur yang ideal adalah 7-8 jam setiap hari. Normalnya, orang yang tidur cukup tidak akan gampang terserang kantuk.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya, apakah waktu tidur siswa-siswi MAN itu sesuai saran 7-8 jam di atas? Mandra mulai terjun ke lapangan guna mencari data untuk penelitiannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selama beberapa hari ia memperhatikan teman-teman sekelasnya. Hasil pengamatan pertama cukup mengejutkan. Ketika jam istirahat tiba, siswa terlihat segar bugar dan penuh semangat. Mereka bisa berlari menuju kantin dengan kecepatan cahaya. Mereka juga tahan berlama-lama bercanda dan Mabar tanpa menunjukkan gejala capek sedikitpun.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun anehnya, ketika bapak ibu guru mulai menjelaskan pelajaran, wajah yang tadinya bersinar langsung redup. Kelopak mata mulai turun. Kepala mulai mencium meja. Dan beberapa siswa mulai memasuki mode mimpi tanpa usaha keras sama sekali.<\/p>\n\n\n\n<p>Mandra mencatat temuan-temuan itu di buku catatannya. Ia menyusun beberapa teori.<\/p>\n\n\n\n<p>Teori pertama adalah <em>Teori Kurang Tidur<\/em>. Berdasar penelitian awal tadi, tidur yang ideal adalah 7-8 jam. Pasti siswa yang tertidur itu karena tidur kurang dari standar BMKG tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mendukung teori tersebut, Mandra melakukan sejumlah wawancara. Responden pertama, Surya.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Berapa lama Saudara tidur tiap malamnya?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Tiga sampai empat jam.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Sebentar sekali. Pantes di kelas sering tidur. Kok bisa?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ya, saya mondok mas. Banyak agenda di pondok. Jadi tidurnya kurang.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Memang agenda di pondok apa saja mas?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Banyak. Mancing, mabar, <em>madang-madang<\/em>. Ya ngaji lah mas.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ok. Ok. Sabar mas. Kembali ke kurang tidur mas,&#8221; lanjut Mandra.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ya, jadi untuk memenuhi kekurangan tidur delapan jam tadi saya cicil, mas.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Lah, cicil bagaimana?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Habis ngaji shubuh saya cicil tidur setengah jam. Makanya saya sering telat. Sebelum istirahat pertama saya cicil tidur satu setengah jam. Setelah istirahat saya cicil satu jam. Selepas MBG dan shalat dhuhur satu jam. Jadi totalnya saya bisa tidur delapan jam.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Hasil wawancara ini seolah membenarkan teori kekurangan tidur Mandra. Sayangnya, hasil wawancara kedua tidak seperti harapan. Sebab salah satu siswa yang tertidur di kelas mengaku semalam tidur pukul delapan malam dan bangun pukul enam pagi.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Itu berarti kamu tidur sepuluh jam,&#8221; kata Mandra.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Iya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Lalu kenapa masih mengantuk?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa itu melamun sebentar. &#8220;Dalam hal tidur, mungkin saya memang berbakat.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Teori pertama pun langsung gagal.<\/p>\n\n\n\n<p>Mandra kemudian menyusun teori kedua: <em>Teori Frekuensi Suara<\/em>. Menurutnya, suara guru yang monoton, apalagi yang membacakan materi dengan nada datar, memiliki frekuensi alpha yang sama dengan musik tidur. Sebaliknya, suara teman yang ngajak mabar memiliki frekuensi beta yang bikin melek.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jadi bukan siswa yang salah,&#8221; tulis Mandra di buku catatannya. &#8220;Tapi mungkin suara Pak guru yang terlalu merdu untuk pengantar tidur.&#8221;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ia coba mengonfirmasi ke Pak Yusyik. Pak Yusyik hanya berkata, &#8220;Kamu mau dapat nilai di bawah KKM? Kalau tidak, hapus teori itu sekarang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mandra pun mencoret teori kedua ini dalam buku catatanya. Ia pusing mencari alasan apalagi yang bisa menjelaskan fenomena ngantuk ini. Saat itu hujan turun lebat dan cuaca dingin. Sebagian teman-temannya ada yang tidur. Jangan-jangan cuaca berperan dalam hal tidur.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Mandra menyusun teori ketiga: <em>Teori Cuaca<\/em>. Rasa ngantuk bisa muncul karena cuaca. Kalau udara dingin, orang mengantuk. Tapi tak lama kemudian, cuaca jadi cerah dan tetap saja ada yang tidur. Gimana ini? batin Mandra. Udara panas, orang mengantuk. Mendung pun, juga mengantuk. Setelah dipikir-pikir, teori ini menjelaskan semuanya sekaligus tidak menjelaskan apa-apa. Lha wong mau panas atau dingin tetep saja ngantuk. Jadi, cuaca tidak ada hubungannya sama sekali dengan ngantuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Teori ketiga juga gagal.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun Mandra tidak menyerah. Sebagai peneliti muda, ia percaya bahwa setiap masalah pasti memiliki jawaban.<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu hari ia menemukan petunjuk penting. Saat pelajaran berlangsung, ia melihat seorang siswa tertidur pulas di bangku belakang. Tetapi beberapa detik setelah bel istirahat berbunyi, siswa itu langsung bangun dengan wajah segar dan berlari menuju kantin. Mandra ndomblong. Ini sungguh di luar nurul.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau memang benar-benar mengantuk, mengapa bisa sembuh hanya dalam waktu tiga detik? Fenomena ini membuatnya sampai pada hipotesis baru. Mungkin kantuk tidak selalu berhubungan dengan tubuh atau cuaca. Mungkin kantuk juga berhubungan dengan perhatian dan antusiasme siswa. Mandra mulai curiga bahwa kantuk ternyata bukan penyakit. Sebab penyakit biasanya menyerang kapan saja. Sedangkan kantuk siswa MAN sangat bijak dan sopan. Ia tahu kapan harus datang dan pergi. Saat pelajaran datang. Saat istirahat pergi.<\/p>\n\n\n\n<p>Penemuan ini membuat Mandra menyadari sesuatu yang penting. Belajar bukan hanya soal datang ke dalam kelas. Belajar juga membutuhkan cinta dan rasa antusias. Tubuh boleh berada di depan guru, tapi pikiran sedang bertamasya ke mana-mana. Ke game <em>Mobile Legend<\/em>, ke warung kopi samping madrasah. Kalau begitu, jelas tidak fokus belajar dan jadi ngantuk.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cGus,\u201d kata Mandra kepada Agus suatu kali. \u201cSaya heran sama sampeyan. Kenapa kalau pelajaran Matematika kamu semangat. Padahal pelajaran lain sering tertidur?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cItu karena suka, Ndra,\u201d jawab Agus.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSuka gimana? Ndak ada sejarahnya kamu suka sama Matematika.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYa, bukan suka sama pelajarannya. Tapi sama bu gurunya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Walah.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, sampai di sini penelitian Mandra belum selesai. Ia kemudian bertanya kepada Pak Yusyik, salah seorang guru di MAN.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pak, apakah guru juga pernah mengantuk saat mengajar?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Tentu.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kalau begitu apa yang Bapak lakukan?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Saya mengingat gaji yang tidak akan cair kalau saya tidur saat mengajar. Kalau ingat itu, seketika rasa kantuk hilang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sambil terkantuk-kantuk, Mandra merenungkan apa arti semua ini. Kantuk tentu saja bukanlah musuh. Ia hanya respon alami tubuh yang membutuhkan istirahat, atau bisa juga karena pikiran yang menginginkan sesuatu yang menarik untuk diperhatikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau ngantuk karena lelah, berarti kita butuh istirahat. Kalau ngantuk karena kehilangan semangat sebab pelajaran kurang menarik, ya mau bagaimana lagi. Tidak semua hal yang penting itu menarik. Hidup bukan soal melakukan hal-hal yang menyenangkan. Sebagian besar hidup justru diisi oleh hal-hal yang biasa-biasa saja: belajar, bekerja, mencuci piring, mengisi Jurnal Kelas, dan rapat yang katanya sebentar tapi ternyata berlangsung selamanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\">Karena itu, orang yang berhasil bukanlah orang yang selalu bersemangat. Tetapi orang yang tetap maju terus meskipun sedang bosan. Dan kalau pembaca mengantuk saat membaca tulisan ini, saya harap itu bukan karena tulisannya membosankan. Mungkin hanya karena semalam memang kurang tidur. Kalau ternyata tetap ngantuk juga, pembaca mungkin punya bakat khusus dalam hal ngantuk.<br><br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\"><strong>MAN<\/strong>, 9 Juni 2026<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MAN Riset Institut&nbsp;(MRI). Mengamati yang biasa, menemukan yang bermakna. Di sudut MAN Kota Magelang terdapat sebuah lembaga penelitian yang keberadaannya belum diakui oleh BRIN, UNESCO, maupun kantin madrasah. Lembaga itu bernama MAN Riset Institut (MRI). Dipimpin oleh peneliti muda bernama Mandra (yang sering kurang kerjaan), MRI meneliti berbagai fenomena kehidupan madrasah: mulai dari nilai ujian, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":6360,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[46],"tags":[],"class_list":["post-6357","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-manrisetinstitut"],"aioseo_notices":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Misteri-Ngantuk.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6357","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6357"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6357\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6408,"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6357\/revisions\/6408"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6360"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6357"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6357"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mankotamagelang.sch.id\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6357"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}