Game of Life 

Riset MRI #003 Game of Life 

Rif’an Anwar

Beberapa minggu ini, pemandangan di MAN Kota Magelang semakin mencurigakan. Tidak lagi terlihat seperti tempat belajar di mana siswa terlibat diskusi dan menuntut ilmu. Setiap kali bel istirahat bunyi, atau ada jam kosong karena guru-guru pada rapat, anak-anak cowok langsung gerak cepat cari posisi. Mereka tidak lari ke lapangan basket, tapi langsung mojok di bawah tangga atau belakang kelas sambil membentuk saf-saf siap untuk maju perang.

Posisi badan sama semua: membungkuk, sikut nempel paha, dan HP-nya dimiringkan. Jempol mereka bergerak kesetanan di atas layar. Virus Mobile Legends dan PUBG sedang melanda madrasah ini.

Mandra merasa perlu turun gunung untuk mengamati fenomena jempol bergoyang ini. Apalagi melihat perjuangan siswa-siswa HP low budget menghadapi kerasnya dunia permainan. Bagi siswa low budget ini, musuh terbesar mereka bukanlah lawan di dalam game, melainkan HP kentang yang mendadak hang saat mau menembak musuh, dan panas layarnya bisa untuk menggoreng telur mata sapi.

Demi mendapat data riil, Mandra menyebar angket data melalui Google Form pada jamaah jempoliyah.  Hasil survei disusun Mandra dalam tabel sederhana:

Hasil Survey MRI: Efek Samping Kecanduan Game bagi Pelajar Madrasah

KerugianPersentase KorbanRespon Jiwa Korban
Krisis Moneter85%Uang saku habis buat beli kuota. Nekat hemat uang jajan dengan puasa Senin-Kamis demi “top-up” beli skin hero. Kalau puasanya dapat pahala, ya syukur.
Efek Fisik90%Awal-awal jempol perih, lalu berubah jadi kapalan segede gaban. Mata juling parah karena terpapar radiasi nuklir layar. Leher kaku karena keseringan nunduk. Dan bibir pecah-pecah karena digunakan untuk mendinginkan hp.
Kemunduran Akademis75%Tugas sering lupa sampai numpuk dan berjamur. Pelajaran blank karena pikiran isinya hanya push rank.

Mandra kemudian melakukan wawancara langsung di tempat kejadian perkara. Target pertamanya Agus yang tengah bersender di tembok bagian belakang kelas. Tatapannya loyo dan bau keringat jempolnya sangat menusuk.

“Kenapa kamu, Gus? Habis diputusin sama pacar?” tanya Mandra.

“Lebih perih, Ndra,” rintih Agus lemes. “Aku semalam lose streak (kalah beruntun) tujuh kali. Pangkatku jeblok. Eman-eman kuotaku, Ndra. Kalau tahu bakal apes begini, mending uangnya tak pakai buat beli bakso depan gerbang.”

Korban kedua adalah Wanto, yang sedang tiarap sambil sembunyi di balik pohon lidah buaya. Ia masih asyik bermain game PUBG.

“To kamu ngapain ndepipis di rumput setengah jam cuma buat nembaki musuh gaib?” selidik Mandra.

“Halah, Ndra, ini namanya latihan strategi bertahan hidup. Biar mental kita kuat kalau besok menghadapi ujian hidup yang sesungguhnya,” jawab Wanto ngeles, padahal aslinya cuma takut mati duluan di game.

Mandra meninggalkan Wanto yang masih setia bersembunyi di balik pohon lidah buaya. Ia berjalan pelan menyusuri koridor. Di setiap sudut, ia melihat pemandangan yang sama: jempol bergerak, mata menatap layar, dunia nyata terlupakan.

Mengapa seseorang bisa demikian tenggelam dalam dunia game? Mengapa manusia bisa teramat serius dalam bermain game? Ia pun teringat ayat tadarus pagi tadi di kelas saat membaca Surah Al-An’am ayat 32: 

Innamal hayatud dunya la’ibun wa lahwun. Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Ya, bukankah hidup ini sendiri adalah permainan, game? Mengapa Allah menggambarkan kehidupan dunia ini seperti game? Game selalu punya misi. Untuk menyelesaikan game, kita mesti melewati misi demi misi. Dan untuk bisa menyelesaikan misi, ada aturan-aturan yang harus ditaati.

Di game, orang rela cari video tutorial atau baca panduan puluhan halaman supaya tidak salah build hero. Anehnya, dalam hidup yang hadiahnya jauh lebih besar, banyak yang malas membaca petunjuknya (Al-Qur’an).

Di game ada misi harian.

Dalam hidup juga ada.

Bedanya, misi harian dalam hidup tidak memberi diamond.

Mandra berjalan kembali ke bangkunya, membuka buku catatan MRI, lalu menuliskan sebuah kesimpulan:

Allah menyatakan bahwa dunia ini permainan. Tapi anak MAN sekarang terbalik. Game di HP, yang cuma tontonan dan hiburan, dimainkan sampai nangis dan begadang. Game asli, yaitu hidup ini, malah dibuat main-main. Padahal di game kehidupan, tidak ada fitur respawn.

Kita bela-belain beli item khusus demi menaikkan pangkat game, sementara untuk pangkat kita di hadapan Tuhan, kita malah santai-santai jadi beban bapak ibu guru karena hobinya kabur dan ngumpet saat adzan Dhuhur berkumandang.

***

Baru saja Mandra selesai menutup pulpennya, Agus tiba-tiba datang lagi sambil cengengesan. Mukanya sudah kembali cerah, gundah gulana semalam tampaknya sudah menguap.

“Ndra, setelah tak pikir-pikir, ucapanmu dan ayat tadi ada benernya,” kata Agus bijak.

“Apa yang kamu pahami?”

“Kalau dunia itu game.”

“Betul.”

“Berarti aku harus fokus meningkatkan level karakterku.”

Mandra tersenyum senang, “Nah, alhamdulillah kalau kamu akhirnya sadar, Gus. Jangan hanya main ML aja serius. Game di kehidupan nyata juga harus serius.”

“Iya, Ndra. Makanya, daripada aku stres mikirin game kehidupan yang ruwet ini, mending kamu bantu aku mabar sekarang. Tolong kamu pakai hero Tank ya, Ndra, buat nylametin nyawaku. Kuotaku tinggal 200 MB ini, ayo selak entek!”

Mandra menarik napas dalam-dalam, menatap Agus dengan pandangan pasrah, lalu menutup buku riset MRI-nya sambil membenturkan jidatnya ke tembok.

MAN, 18 Juni 2026