Riset di Ujung Langit

Laporan Penelitian #001 Riset di Ujung Langit

Oleh: Rif’an Anwar

Alkisah di sebuah madrasah bernama MAN Kota Magelang, hiduplah seorang siswa bernama Mandra (kalau menemukan siswa memiliki nama itu, berarti dia anaknya). Siswa ini terkenal kreatif dan penuh rasa ingin tahu. Ia terlalu suka bertanya. Bukan hanya bertanya tentang hal-hal besar seperti masa depan dan cita-cita, tetapi juga hal-hal kecil seperti mengapa pulpen hilang, mengapa siswa mengantuk, atau mengapa nilai 75 terasa jauh lebih membahagiakan daripada nilai 74 yang di bawah KKM.

Dia senantiasa tertarik dengan dunia riset atau penelitian. Setiap ada lomba, pasti dia terdepan ikut. Salah satu penelitiannya, jangan ditanya lagi, pernah lolos tingkat nasional dalam ajang Myres. Tapi kenangan indah di Myres itu sudah lama berlalu. Mandra kini sudah bersemangat untuk melakukan riset lagi.

Kali ini yang akan dijadikan bahan penelitian adalah MBG, Makan Bergizi Gratis. Sebuah program mulia dari pemerintah untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Salah satu sasarannya adalah siswa madrasah kita tercinta. Mandra penasaran apakah program ini berjalan sesuai rencana.

Tapi, tidak hanya Mandra yang penasaran. Semua orang juga penasaran. Banyak pihak yang menduga bahwa mencari jawab pertanyaan ini akan sangat sulit. Mungkin jawabnya ada di ujung langit. Tapi tidak perlu khawatir. Karena kita bisa ke sana dengan seorang anak. Anak yang tangkas, dan juga pemberani: Mandra.

Mulailah proses penelitian dilakukan oleh Mandra. Mandra memulainya dari yang sederhana. Ompreng. Mandra menguji kualitas dan daya tahan ompreng. Apakah ia sekuat macan, atau hanya sekuat harapan kepada mantan. Apakah ia sejenis ompreng yang kalau jatuh bukan omprengnya yang benjol, tapi lantainya yang ambrol. Kemudian menu makanan apa yang biasa disajikan. Selama seminggu penuh Mandra mengamati ompreng hingga omprengnya menatap balik. Ia juga memakan menu MBG hingga jilatan terakhir.

Data awal penelitian sudah didapat. Kini Mandra masuk tahap selanjutnya. Ia ingin mewawancarai beberapa narasumber terkait MBG di MAN. Sebagai awal, Mandra mewawancarai dua orang siswa. Satu siswa berkacamata plus, satu lagi memakai kacamata minus.

Demikian hasil wawancara dengan siswa berkacamata plus:

M = Mantap; dapat makanan yang bagus untuk kesehatan dan selalu berganti menu setiap hari. Apalagi gizi dan nutrisi sudah diatur oleh ahli gizi yang jempolan. Rasanya mantap, gizinya mantap, omprengnya mantap. Bahkan kalau mantapnya ditambah sedikit lagi mungkin bisa masuk nilai rapor.

B = Bergizi; tidak diragukan lagi. Makanan yang bergizi tidak hanya menjadikan tubuh sehat, tapi juga langsung membuat siswa langsung cerda hingga bisa menjawab soal ujian bahkan sebelum lembar soal dibagikan.

G = Gratis; tiada kata yang lebih indah bagi siswa selain kata gratis. Bahkan siswa lebih hafal kata ini daripada rumus trigonometri.

Sementara siswa yang memakai kacamata minus menjawab:

M = Mubazir; kita bisa lihat berapa banyak makanan yang terbuang sia-sia saat makan MBG. Padahal kata pak Jalal, mubazir itu temannya setan. Kalau begini, setannya pasti sudah punya banyak teman.

B = Bikin repot; setiap mau ambil MBG pasti pada gak mau. Apalagi pas ngembaliin. Bikin repot saja.

G = Galau; Karena setiap hari kita bertanya-tanya: hari ini menunya apa? Enak atau tidak? Nanti keracunan atau enggak? Dan pertanyaan ini lebih menegangkan daripada ulangan harian.

Hasil ini membuat Mandra pusing. Sebagai peneliti muda, ia diajarkan bahwa data harus objektif. Masalahnya, dua narasumber ini melihat sesuatu yang sama tetapi menghasilkan kesimpulan yang bertolak belakang. Yang satu melihat manfaat. Yang satu melihat masalah. Yang satu seperti melihat malaikat. Yang satu seperti melihat setan. Padahal mereka makan dari ompreng yang sama.

Dari wawancara yang membikin Mandra puas keheranan dan puas kebingungan itu, dia akhirnya membuat suatu hipotesa atau kesimpulan sementara: baik buruknya suatu masalah itu bukanlah pada apa dan bagaimana suatu masalah itu ada. Tetapi tergantung bagaimana cara kita memandangnya.

Kadang kita menganggap sesuatu itu baik, padahal sejatinya buruk. Sebaliknya, kadang kita mengira sesuatu itu buruk, padahal sebenarnya baik.

Allah mengingatkan kita dalam surat Al-Baqarah ayat 216.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

Saat itulah Mandra menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada hasil penelitiannya. Yang membedakan kedua siswa itu ternyata bukan makanan yang mereka makan. Bukan pula ompreng yang mereka pegang. Yang berbeda hanyalah kacamatanya.

Mungkin memang demikianlah hidup ini. Dua orang bisa mengalami peristiwa yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Dua orang bisa melihat kenyataan yang sama, tetapi menemukan makna yang berbeda.

Karena itu, sesekali kita perlu memeriksa kacamata kita sendiri. Jangan-jangan masalahnya bukan pada dunia yang kita lihat. Jangan-jangan masalahnya ada pada cara kita melihat dunia.

Magelang, 6 Juni 2026