Riset #018. Sepotong Cinta untuk Starla
Cinta. Alangkah indahnya. Mungkin itulah perasaan paling rumit sekaligus paling indah yang pernah mampir ke dalam dada manusia. Miliaran puisi lahir karenanya, jutaan drama tercipta, tangis dan air mata menyatu di sana.
Inilah cinta, yang membuat Romeo rela meneguk racun demi Juliet. Inilah cinta, yang membuat Qais menjadi Majnun gila mengitari padang pasir demi Laila. Dan inilah cinta, yang membuat Bandung Bondowoso rela membangun seribu candi untuk Roro Jonggrang hanya dalam satu malam.
Pagi itu di baris belakang kelas X A, Agus sedang bersandar di tembok sambil bersenandung pelan dengan mata terpejam, sok puitis:
Takkan habis sejuta lagu~
Untuk menceritakan cantikmu~
‘Kan teramat panjang puisi~
‘Tuk menyuratkan cinta ini…


Mandra menoleh sambil terkekeh. “Tumben, Gus? Kesambet setan lagu pop dari mana kamu?”
“Kamu ndak paham estetika, Ndra,” potong Agus sambil mengusap dadanya sok dramatis. “Lagu ini dalam banget. Aku bayangkan betapa indahnya kalau kita bisa berjuang mendapatkan orang yang kita cintai, lalu menua bersama sampai rambutnya putih semua.”
“Kayak pernah jatuh cinta saja kamu, Gus,” sindir Mandra. “Perasaan saban hari cuma sibuk mikir utang kantin.”
“Gus,” kata Wanto ikut menyambar dari meja depan. “Cinta itu soal rasa. Ndak bisa dinilai dari rupa atau dompet.”
“Nah! Dengarkan itu, Ndra!” seru Agus bersemangat. “Makanya, aku mau berjuang! Siapa yang tidak terenyuh melihat pengorbanan dua insan yang dimabuk cinta? Aku mau buktikan kalau cintaku ini tulus!”
Mandra diam sejenak. Batinnya membenarkan kata Wanto: cinta memang soal rasa. Ia hadir tanpa permisi, mengetuk dada siapa saja. Namun, bagi anak madrasah, urusan perasaan ini selalu memunculkan celah kejelekan.
Mandra menoleh pada Surya yang sejak tadi tekun menghafal nadzam Alfiyah Ibnu Malik.
“Sur,” panggil Mandra. “Menurut kitabmu, cinta remaja yang meletup-letup begini sebenarnya boleh ndak sih?”
Surya menghentikan gumamannya, melirik Mandra, lalu melantunkan bait syair dari kitab Alfiyah Syarah Ibnu Aqil dengan nada lirih:
فَلَا تَلْحَنِى فِيْهَا فَاِنَّ بِحُبِّهَا # اَخَاكَ مُصَابُ الْقَلْبِ جَمٌّ بَلَابِلُهْ
“Janganlah kamu mencelaku karena mencintainya… Sesungguhnya karena cinta itu, saudaramu ini hatinya tertimpa banyak kedukaan dan dimabuk kepayang.”

Agus mengepalkan tangan. “Nah! Syekh Ibnu Aqil saja mendukung cinta!”
“Sik tho, Gus, sabar” potong Surya santai.
“Kamu juga jangan main syair-syairan, Sur. Intinya boleh atau enggak?” tanya Mandra gemas.
“Cinta itu fitrah, Ndra,” jawab Surya. “Kekuatannya bahkan bisa merubuhkan benteng terkuat sekalipun. Tapi kata Pak Kiai, syariat memberi kita batas: ada adab antara laki-laki dan perempuan. Menjaga pandangan, tidak berkhalwat, tidak mempermainkan rasa. Jangan sampai rasa cinta malah bikin kita lupa diri.”
“Ah, kamu ini merusak momen romantis saja, Sur!” gerutu Agus.
“Sedang diskusi apa kok seru sekali?”

Suara berat dan teduh mendadak terdengar dari pintu kelas. Pak Yusyik sudah berdiri di sana membawa spidol dan buku paket Fikih. Kelas seketika hening.
“Kami sedang bicara soal cinta, Pak,” jawab Mandra jujur.
“Soal perjuangan mendapatkan cinta, Pak!” seru Agus tidak mau kalah. “Kalau kita memperjuangkan orang yang kita cintai sampai dapat, itu boleh dan keren kan, Pak?”
Pak Yusyik berjalan pelan mendekati meja Agus, menaruh bukunya, lalu menatap anak muridnya itu dengan senyum hangat.
“Pertanyaan bagus, Gus. Tapi coba Bapak tanya balik: misal kamu berhasil berjuang dan mendapatkan orang yang kamu cintai… lalu apa?”
Agus berkedip. “Ya… saya akan bersamanya, Pak! Bahagia!”
“Apa itu akhir yang kamu mau?”
“Jelas, Pak! Mau apa lagi? Menua bersama!”
Pak Yusyik mengangguk-angguk pelan. “Lalu bagaimana kalau kalian hanya bisa bersama sampai kematian memisahkan, atau sampai fisik dan duniamu hancur ditelan waktu?”
Wajah Agus mendadak mengkerut. “Ya… itu kan hukum alam, Pak. Tapi kan minimal sudah sempat memiliki.”
“Lho, Gus, kamu ini mau mencintai orang atau beli tanah?” Wanto tiba-tiba menyela. “Pakai istilah memiliki segala.”
Beberapa anak tertawa. Agus melotot.
“Ya beda, To! Kalau tanah, bisa disertifikatkan!”
“Kalau orang, memangnya bisa?”
Tawa kelas semakin riuh. Agus hendak membalas, tetapi tak menemukan jawaban yang pas.

Pak Yusyik tersenyum. “Itulah yang perlu kita pikirkan. Cinta bukan sertifikat kepemilikan. Orang yang kita cintai tetaplah manusia yang memiliki kehendak, bukan sesuatu yang menjadi hak kita hanya karena kita menginginkannya.”
“Tetapi,” lanjut Pak Yusyik, “ada persoalan yang lebih besar daripada sekadar keinginan memiliki seseorang. Pernahkah kalian berpikir, apa yang terjadi jika sesuatu yang paling kita cintai justru harus kita lepaskan demi sesuatu yang lebih tinggi?”
Anak-anak terdiam.
“Ingatkah kalian dengan kisah Nabi Ibrahim alaihis salam?” lanjut Pak Yusyik.
Mandra mendengarkan dengan tatapan tak berkedip.
“Bertahun-tahun Nabi Ibrahim berdoa mendambakan seorang putra. Ketika lahir Ismail yang santun, betapa bahagianya hati sang ayah. Cinta manusiawi seorang bapak kepada anaknya tentu begitu besar. Ismail adalah putra yang sangat dicintainya. Namun, suatu malam, Ibrahim menerima sebuah ujian yang begitu berat melalui mimpi: sebuah perintah yang menggetarkan langit dan bumi.”
Pak Yusyik jeda sejenak. Kelas begitu hening, hanya terdengar deru kipas angin tua di langit-langit.
“‘Wahai Ibrahim, sembelihlah putramu.’”
Agus menelan ludah.
“Kesedihan melanda hati Ibrahim dengan dahsyat,” lanjut Pak Yusyik pelan. “Putra yang amat dikasihaninya, buah hati yang paling dicintainya, harus dikurbankan.”
Pak Yusyik mengetuk dadanya sendiri pelan.
“Ketika Ibrahim berserah diri dan siap menjalankan perintah Allah, meskipun harus mengorbankan putra tercintanya, di situlah tampak bahwa cintanya kepada Allah berada di atas segala-galanya. Ibrahim tidak berhenti mencintai Ismail. Namun, ia menunjukkan bahwa cintanya kepada sang putra tidak menghalanginya untuk berserah diri kepada Allah.”

Pak Yusyik tersenyum menatap Agus yang kini tertunduk terdiam.
“Jadi, mencintai itu juga berarti harus siap kehilangan, Pak?” Bahrul memecah keheningan.
Pak Yusyik mengangguk pelan lalu memandangi Bahrul dan wajah anak-anak didiknya satu per satu.
“Setidaknya, kita harus menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa kita genggam selamanya. Boleh kamu kagum pada seseorang. Boleh kamu menyukai lagu Starla. Sepotong cintamu boleh kamu berikan untuk sesama manusia sebagai rasa kasih sayang. Namun, jangan sampai sesuatu yang kita cintai membuat kita melupakan siapa yang seharusnya menjadi tujuan tertinggi hidup kita.”
Suasana khidmat menyelimuti kelas X A. Tidak ada celetukan jenaka dari Agus. Hanya bunyi kipas angin tua yang mengalun dengan keras.
Mandra tersenyum tipis, membuka buku catatan MRI-nya, lalu menggoreskan pena.
Hipotesis MRI #018
Cinta manusia sering kali terjebak pada hasrat untuk memiliki, padahal apa pun yang kita miliki di dunia ini fana dan terbatas oleh waktu.
Mencintai sesuatu yang fana bukanlah kesalahan. Namun, menggantungkan seluruh kebahagiaan kepadanya akan membuat kita mudah kehilangan arah ketika ia berubah atau pergi.
Sepotong cinta boleh hadir untuk manusia dan dunia sebagai warna-warni kehidupan, tetapi Allah tetaplah menjadi tujuan tertinggi dalam setiap cinta.
Mandra menambahkan catatan sebuah hadits di bawahnya.
Rasulullah bersabda: “Ada tiga perkara yang apabila dimiliki seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya; ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah; dan ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka.”
Mandra menutup bukunya. Suasana kelas masih hening ketika bel pergantian jam berbunyi nyaring. Agus berdiri pelan-pelan, lalu berbisik ke Mandra sambil berjalan keluar.
“Ndra, jadi lagu Starla itu… boleh didengerin apa enggak?”
“Boleh, Gus. Yang nggak boleh itu kalau kamu love U full sama Starla. Soal cinta, cukup sepotong saja.”
Agus terdiam sejenak, lalu ngomong. “Lha, sepotong. Sepotong itu seberapa, Ndra?”
“Pokoknya jangan sampai lebih besar daripada cintamu kepada Allah dan Rasul-Nya.”
“Kalau potongannya gede boleh, Ndra?”
“Emang kamu sudah jadian sama Starla?”
“Ya, belum,” jawab Agus nyengir. “Terus aku harus gimana, Ndra?”
“Ya, tulis surat untuk Starla.”
“Nanti dikirim ke mana?”
“Ke Hongkong! Ya ke orangnya, Gus,” Mandra mulai kesal.
“Tapi aku nggak tahu di mana alamatnya?”
“Lha. Emang kamu kenal Starla lewat apa?”
“Lewat lagu Surat Cinta untuk Starla, Ndra.” [Rif’an Anwar]

Baturraden-MAN, 18-24 Oktober 2026