Riset MRI#005 Kacamata Setelan Pabrik
Rif’an Anwar
Usai bergelut dengan kacamata plus dan minus dalam program Makan Bergizi Gratis, Mandra membuka kembali catatan riset MAN Riset Institut (MRI) miliknya. Kesimpulan dari riset sebelumnya masih terngiang-ngiang: dunia ini tergantung bagaimana cara kita memandangnya.
Namun, jiwa peneliti Mandra belum puas. Kalau dunia bisa dilihat baik atau buruk tergantung kacamatanya, lalu adakah manusia yang masih memandang dunia dengan kacamata setelan pabrik: yang bening, jujur, dan objektif apa adanya tanpa filter kepentingan? Dan apa yang membuat seseorang cenderung memilih kacamata plus atau minus?
Di hari Jum’at siang, dilaksanakan ekstrakurikuler wajib Pramuka. Cuaca panas dan berdebu. Pohon lidah buaya tempat favorit merenung Mandra sampai melet-melet kehausan.
Di tengah kegiatan, Mandra terlibat obrolan dengan Danang. Danang sejak SMP memang pencinta alam dan aktivis Pramuka garis keras.
“Nang, bagaimana kegiatan Pramuka hari ini?” tanya Mandra.
Danang menjawab dengan mata berbinar, “Luar biasa, Ndra! Berjemur di bawah terik matahari itu melatih mental baja dan kedisiplinan. Materi tali-temali melatih motorik dan logika spasial kita. Bau keringat di lapangan itu adalah bau parfum perjuangan. Pokoknya, Pramuka itu media terbaik untuk membentuk karakter pemuda tangguh!”
Mandra mencatat kata kunci Danang: Mental baja, logika, parfum perjuangan, tangguh.
Setelah kegiatan ekstra berakhir, Mandra terlibat perbincangan dengan Rio. Yang satu ini hobinya game online dan benci sinar matahari.
“Yo, gimana menurutmu Pramuka hari ini?”
“Bencana kemanusiaan, Ndra! Bayangkan, siang-siang bolong netes keringat cuma buat tepuk tangan gak jelas di lapangan. Mana materi tali-temalinya kuno banget, hari gini masih ngiket bambu pake tali, emang kita mau bikin rakit buat banjir bandang? Bau lapangan tadi adalah bau penderitaan. Gak ada faedahnya sama sekali! Lebih baik game online. Itu melatih kemampuan problem solving, meningkatkan kemampuan IT, dan mengasah kecerdasan kolaboratif dengan pemain lain.”
Mandra tersentak melihat catatan risetnya. Objeknya sama: panas matahari yang sama, tali yang sama, lapangan MAN yang sama. Tapi di tangan Danang, hal itu menjadi kesenangan. Di tangan Rio, hal itu menjadi penderitaan. Kesimpulannya berbeda sejauh bumi dan langit.
Dari situ Mandra menemukan hal menarik. Danang yang memang menyukai Pramuka, mencari-cari hal baik untuk kegiatan itu. Sementara Rio, yang membenci Pramuka, hanya menemukan hal jelek di sana. Tapi karena suka game online, dia bisa mencarikan hal-hal baik dari sana. Danang memutuskan pakai kacamata plus, dan Rio kacamata minus. Anehnya, dua-duanya merasa kacamatanyalah yang paling setelan pabrik.

Kalau begitu, adakah yang memilih kacamata setelan pabrik? Yang melihat sesuatu seperti apa adanya.
Mandra membayangkan seseorang yang melihat Pramuka apa adanya. Tidak terlalu memuji. Tidak terlalu mencaci. Orang itu mungkin akan berkata:
“Pramuka memang panas dan melelahkan. Tapi ada juga manfaatnya. Tidak sempurna, tapi juga tidak seburuk yang dibayangkan.”
Masalahnya, Mandra belum pernah bertemu orang seperti itu. Kebanyakan manusia lebih suka menjadi penggemar atau pembenci daripada menjadi penilai yang adil.
Saat itulah Mandra mulai curiga. Jangan-jangan kacamata setelan pabrik memang tidak pernah bertahan lama. Sejak manusia mulai menyukai sesuatu, kacamatanya berubah menjadi plus. Sejak manusia mulai membenci sesuatu, kacamatanya berubah menjadi minus.
Mandra pun teringat kalam hikmah Arab: “Hubbuka asy-syai’ yu’mi wa yushim” (Cintamu pada sesuatu membuatmu buta dan tuli). Dan rupanya, kebencian pun memiliki efek magis yang sama. Cinta membuat kekurangan terlihat kecil. Benci membuat kekurangan kecil terlihat sebesar Gunung Merapi.
Sayyidina Ali pernah menyampaikan nasihat.
“Ahbib habibaka haunan ma, ‘asa an yakuna baghidhoka yauman ma. Wa abghidh baghidhoka haunan ma, ‘asa an yakuna habibaka yauman ma.” (Cintailah kekasihmu itu sekedarnya saja, boleh jadi suatu hari nanti kamu akan membencinya. Dan bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja, boleh jadi suatu hari nanti ia akan jadi kekasihmu).
Nasihat itu membuat Mandra semakin paham. Mungkin cinta dan benci bukan hanya mengubah perasaan manusia. Keduanya juga mengubah cara manusia melihat kenyataan.
Mandra meraih buku catatan MRI-nya dan menulis.
Kacamata setelan pabrik (melihat apa adanya) mungkin sudah punah. Tidak ada lagi kacamata yang benar-benar netral. Rasa suka membuat orang memilih lensa plus. Rasa benci mendorong orang memilih lensa minus.
Mandra menutup buku kecilnya. Memandangi pohon lidah buaya yang berdiri tenang di bawah terik matahari. Pohon itu tidak punya kacamata plus. Tidak punya kacamata minus. Mungkin karena itulah hidupnya terlihat lebih damai daripada manusia.
Agus, teman sekelas Mandra, menghampirinya dengan wajah serius.
“Ndra, karena penelitianmu aku jadi sadar.”
“Sadar apa?”
“Kalau orang benci sesuatu, dia pasti melihat yang jelek-jelek.”
“Lalu?”
”Cewek-cewek bilang aku jelek karena mereka sudah terlanjur nggak suka sama aku. Mereka melihatku dengan kacamata minus.”
“Terus?”
“Untung masih ada satu orang yang melihatku dengan kacamata plus.”
Mandra tersenyum.
“Siapa?”
“Orang yang paling mengenalku.”
“Siapa memangnya?”
Agus menunjuk dadanya.
“Aku.”
MAN, 13 Juni 2026