Riset MRI#011. Kelinci dan Kura-Kura: Sebuah Kisah Klasik untuk Masa Depan
Rif’an Anwar
Sejak riset tentang “monster di barisan belakang”, Mandra mulai curiga bahwa kemampuan manusia memang tidak sesederhana angka di papan peringkat. Kali ini kecurigaan itu muncul lagi di lapangan olahraga.
Beberapa hari ini di MAN sedang musim seleksi lomba untuk POPDA. Ada bulutangkis, pingpong, lempar lembing, dan lomba lari dari kenyataan. Yang terakhir jelas cuma ngarang.
Suasana seleksi ramai. Dan tambah ramai ketika Fahri, pelari tercepat madrasah, langganan juara bersiap lari sprint 100 meter melawan Gani, siswa biasa yang larinya secepat kura-kura yang sedang masuk angin.
Saat seleksi resmi yang hanya digelar satu kali itu, kaki kanan Fahri sempat menyerempet kaki kirinya sendiri hingga oleng. Hasilnya mengejutkan: Gani finish pertama, Fahri finish terakhir. Seleksi selesai, stopwatch dimatikan, nilai dicatat oleh guru Olahraga. Gani lah yang dinyatakan lolos mewakili MAN.
“Pak, Dayat,” kata Fahri. “Bapak tahu sendiri catatan waktu lari saya tercepat di madrasah. Apakah karena hasil seleksi ini saya tidak bisa mewakili MAN, Pak?”
“Sesuai hasil seleksi, Mas,” jawab pak Dayat.
Agus ikut mengusulkan solusi ke Pak Dayat,
“Pak, bagaimana kalau Fahri dan Gani tanding ulang? Tapi Fahri pakai sandal jepit, Gani tetap pakai sepatu lari?”
Pak Dayat menggeleng.
“Gus, ini POPDA, bukan lomba lucu-lucuan.”
Fahri ngomong lagi,
“Pak, semua orang tahu rekor lari saya 11 detik, Gani 16 detik. Hari ini saya apes. Kalau tanding lagi besok, saya pasti menang mudah. Ini demi nama baik MAN di tingkat kota!”
Gani membela diri,
“Aturan tetap aturan, Ri. Seleksinya kan hari ini, bukan besok. Kalau setiap orang apes minta tanding ulang, pemilu negara ini gak akan kelar-kelar karena paslon yang kalah selalu minta rematch.”
Mandra mencatat perdebatan itu di buku MRI-nya. Ini rumit. Di satu sisi, Gani benar. Dia menang secara sah. Tidak menyuap stopwatch. Tidak pula naik motor saat seleksi lari. Dia menang jujur di atas lapangan hari itu.
Tapi di sisi lain, logika Fahri juga masuk akal. Semua orang tahu siapa pelari tercepat di madrasah.
Masalahnya adalah: POPDA itu tingkat kota.
Lawan mereka nanti adalah kelinci-kelinci tangguh dari SMA dan SMK sebelah yang larinya kayak dikejar herder. Kalau MAN mengirim Gani yang menang dengan faktor “hoki” karena kaki Fahri salah nubruk, sekolah mereka terancam bakal dibantai habis-habisan di babak penyisihan. Gani ga akan jadi kelinci balap, tapi bakalan jadi kelinci percobaan.
Mandra jadi teringat kisah Kelinci dan Kura-Kura. Dalam kisah terkenal itu, Kura-Kura menang balap lari atas Kelinci. Hal ini bisa terjadi karena Kelinci sudah sangat percaya diri pasti menang melawan Kura-Kura.
Mandra sebenarnya sejak awal kurang percaya dengan kisah ini. Mana ada kelinci yang sempat tidur siang di tengah perlombaan resmi. Sampai enam kali lagi!
Pertanyaannya, kalau diadakan tanding ulang dan Kelinci minum obat anti ngantuk, apakah Kura-kura punya kans untuk menang? Dalam kondisi normal, sampai mencret pun Kura-Kura tidak akan menang lari melawan Kelinci.
Mandra mencatat dalam buku MRI-nya:
Ini sesuatu yang sulit. Secara kemampuan alami, Kelinci memang jauh lebih cepat dari Kura-kura. Tanpa keajaiban, tidak mungkin Kura-Kura bisa mengalahkan Kelinci. Apa sebenarnya pelajaran dari hal ini?

Mandra menutup buku kecilnya dan berjalan ke arah pohon lidah buaya favoritnya. Dia merenungkan kembali pertanyaan terakhir di buku MRI. Ya, apa sebenarnya makna semua ini.
Mungkin pelajaran dari kisah itu bukan bahwa kura-kura lebih cepat daripada kelinci. Karena itu jelas tidak benar. Pelajarannya adalah bahwa kemampuan besar tidak ada gunanya jika tidak disertai kesungguhan.
Dan kemampuan biasa-biasa saja kadang bisa mengalahkan kemampuan luar biasa yang sedang gagal fokus.
Kura-kura memang tidak lebih cepat. Tapi ia lebih konsisten dan fokus.
Fahri memang lebih cepat. Tapi hari itu Gani lebih siap dan beruntung.
Hidup ternyata sering menilai kita bukan berdasarkan kemampuan terbaik yang kita miliki, melainkan berdasarkan apa yang benar-benar kita lakukan pada saat yang diperlukan.
Namun, setelah berpikir lebih lama, Mandra menemukan hal lain yang tidak kalah penting.
Kura-kura tetaplah kura-kura.
Dan kelinci tetaplah kelinci.
Meskipun suatu hari kura-kura menang lomba lari, itu tidak berarti ia harus menghabiskan sisa hidupnya berusaha menjadi kelinci.
Setiap makhluk punya keistimewaannya sendiri.
Li kulli syai’in maziyyah.
Setiap sesuatu memiliki kelebihan.
Kelinci unggul dalam kecepatan.
Kura-kura unggul dalam ketahanan.
Ikan unggul dalam berenang.
Burung unggul dalam terbang.

Namun, semakin lama berpikir, Mandra merasa persoalannya tidak berhenti pada Fahri dan Gani saja.
Setiap manusia datang dengan spesifikasi yang berbeda-beda. Ada yang cepat memahami matematika, ada yang membutuhkan waktu lebih lama tetapi sangat teliti. Ada yang tidak terlalu menonjol di kelas, tetapi ketika diberi tugas praktik justru menjadi yang paling menonjol.
Lalu, bagaimana caranya si lambat bisa mengejar si cepat kalau jarak levelnya sejauh bumi dan langit?
Jawabannya: Kura-kura tidak akan pernah menang kalau ngotot ikut lomba lari di lintasan kelinci. Dia baru punya peluang ketika perlombaannya dipindah ke sungai. Di situlah gantian kelinci yang sibuk mencari pelampung.
Tetapi itu bukan berarti kura-kura tidak perlu belajar berlari.
Ia tetap boleh berlatih. Ia tetap boleh berusaha menjadi lebih cepat. Hanya saja, ia tidak perlu menghabiskan seluruh hidupnya untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi kelinci.
Kura-kura pun, meski tidak pindah ke sungai dan tetap tinggal di darat, dia punya satu keistimewaan yang tidak dimiliki kelinci: sebuah cangkang yang kuat. Kura-kura tidak perlu lari kencang, dia hanya perlu masuk ke dalam cangkangnya untuk selamat dari badai.
Di buku MRI, Mandra mencatat:
Berhentilah bercita-cita menjadi orang lain. Kelinci yang dipaksa berenang akan tenggelam, dan kura-kura yang dipaksa lari hanya akan berakhir jadi kelinci percobaan.

“Ndra,” panggil Wanto yang tiba-tiba muncul sambil cengengesan. “Kalau melihat bakat alamiahku yang hobi tidur di kelas pas jam pelajaran sejarah, apa itu bisa disebut keistimewaan?!”
“Embuh…”

MAN, 14 Juni – 9 September 2026