Kenapa Kelas Khusus Akademik Banyak Ceweknya?

Riset MRI#008. Kenapa Kelas Khusus Akademik Banyak Ceweknya?

Rif’an Anwar

Hampir satu semester Mandra dan teman-temannya duduk di kelas XA, Kelas Khusus Akademik (KKA) di MAN. Namun baru hari itu Agus menyadari sebuah keanehan saat matanya mengabsen seluruh isi ruangan.

Dari 30 siswa di kelas itu, deretan kerudung mendominasi ruangan. Siswa laki-laki hanya tersisa secuil di sudut belakang: Mandra, Agus, Wanto, Surya, Bahrul, Doni, Faza, Fajar, dan Agung.

“Ndra, lihat ada yang aneh nggak di kelas?” kata Agus.

Mandra melihat sekeliling. Wanto sedang makan. Bahrul membaca buku. Surya menguap. Doni menggambar. Faza sibuk mengutak-atik pulpen. Agung mengintip lapangan.

Agus bicara lagi.

“Ndra, kamu sadar ndak kalau jumlah cowok di kelas kita ini cuma ada sembilan?”

Mandra menoleh, mengedarkan pandangan. “Eh… iya po, Gus?”

“Kalau kita pakai surban, blangkon, terus dakwah keliling kampung bawa rebana, kita bisa disebut Wali Songo,” kata Agus sambil terkekeh bangga.

Mandra menggeleng-gelengkan kepala. “Kalau Wali Songo-nya model kamu, bukan Wali Songo, Gus. Tapi Wali Songong.”

Sekeliling mereka tertawa kecil. Tapi Agus tidak menyerah.

“Tapi serius, Ndra. Kamu penasaran nggak kenapa kelas akademik isinya lebih banyak cewek?”

Rasa ingin tahu Mandra langsung meningkat. Sejak jadi Ketua MRI, rasa ingin tahunya berkembang lebih cepat daripada jerawat Agus. Ia meraba buku MRI di tasnya. 

Riset Sementara: Mengapa cowok di kelas ini cuma sembilan?

Hipotesis pertama:

Cowok memang lebih sedikit yang pintar.

Mandra melihat lagi hipotesisnya dan melihat fakta-fakta di MAN. Kepala Madrasahnya cowok. Waka tiga cowok dan satu cewek. Guru Matematika juga tiganya cowok. Ikan di kolam belakang juga banyak cowoknya. 

Mandra langsung mencoret hipotesisnya.

Hipotesis kedua:

Cowok malas belajar.

Ia menoleh. Bahrul sedang membaca buku setebal batu bata. Surya sedang menghafal nadzom Alfiyah. Agung mengerjakan Matematika.

Hipotesis kedua ikut dicoret.

Agus mengintip buku MRI.

“Ndra. Main corat-coret aja. Penelitianmu cepat sekali salahnya.”

“Itu namanya kemajuan ilmu.”

“Salah ya salah aja, Ndra. Rausah kakean gaya.

Mandra tidak menghiraukan sindiran Agus. Karena dua hipotesis awal kurang meyakinkan, Mandra memutuskan melakukan cara yang menurutnya lebih ilmiah: bertanya langsung kepada penghuni kelas.

Ia menulis di buku MRI:

Survei: Mengapa siswa laki-laki di kelas ini lebih sedikit?

Responden pertama menjawab:

“Akhir zaman,” jawab Surya.

Mandra mengangkat kepala.

“Maksudnya?”

“Ya akhir zaman.”

“Hubungannya dengan jumlah cowok di kelas apa?”

“Ndak tahu. Tapi kayaknya cocok.”

Mandra menulis: data tidak jelas.

Responden berikutnya, Faza, lebih yakin.

“Cowok lebih non-akademik daripada cewek.”

Mandra mulai cukup puas. Ini terdengar ilmiah.

Kemudian responden ketiga, Wanto.

“Kalau banyak cowok, itu KKO (Kelas Khusus Olahraga).”

Mandra berhenti menulis.

“Jadi cowok yang tidak masuk KKA masuk KKO?”

“Ya.”

“Kalau cowok masuk KKA?”

“Berarti akademik.”

“Lho kok muter-muter.”

“Ya emang gitu, Ndra”

Mandra menatapnya. Penelitian mulai berputar di tempat.

Mandra beralih ke responden berikutnya, Doni.

“Cewek lebih cepat dewasa.”

“Dasarnya?”

“Mens datang lebih dulu daripada mimpi basah cowok.”

Mandra berhenti menulis.

Ia tidak yakin ini penelitian pendidikan atau penelitian biologi reproduksi.

Responden berikutnya menjawab singkat.

“Ini sudah takdir,” jawab Fajar.

“Takdir siapa?”

“Allah.”

Mandra memandang bukunya.

“Tapi kenapa Allah mentakdirkan begitu?”

“Ya jangan tanya aku, Ndra. Tanya sendiri langsung sama Allah.”

Seorang responden memberikan teori yang lebih panjang.

“Cewek selalu benar,” kata Agung.

Mandra mulai menulis.

“Jadi?”

“Karena itu cewek lebih suka ilmu eksak.”

Mandra berhenti.

“Apa hubungannya?”

“Ilmu eksak itu pasti. Jawabannya jelas.”

“Terus?”

“Cewek lebih suka kepastian. Bukan cuma omongan.”

Mandra mulai mengangguk.

“Nah, ini baru masuk akal.”

“Makanya cowok jangan banyak janji.”

Mandra menghapus kalimat terakhir. Responden mulai keluar dari dunia penelitian dan masuk dunia curhat.

“Cowok ingin bebas,” kata responden selanjutnya.

Mandra mengangguk.

“Berarti cewek ingin dipenjara?”

“Ya enggak begitu!”

Mandra menatap buku MRI. Data semakin kacau. Setelah membaca semua jawaban survei teman-temannya, Mandra akhirnya membuka internet.

Ia menemukan data PISA. Data PISA malah membuat Mandra semakin bingung.

Dalam sains, perbedaan kemampuan laki-laki dan perempuan tidak terlalu besar. Berarti bukan karena cowok tidak mampu belajar.

Tapi kalau begitu, kenapa kelasnya lebih banyak perempuan?

“Jadi kesimpulannya apa, Ndra?” Agus membuyarkan renungan Mandra.

“Kesimpulannya… penelitianku sepertinya aneh sejak awal, Gus.”

“Lho, kok bisa?”

“Aku mau meneliti kenapa kelas ini dominan cewek, tapi dari tadi aku cuma wawancara cowok.”

Agus menepuk jidatnya sendiri. “Halah, Ndra, Ndra… pantesan datamu cuma muter di urusan mimpi basah sama takdir. Lha wong kamu nanya ke orang yang sama-sama bingungnya!”

“Terus sekarang gimana, Gus?” tanya Mandra.

“Ah, gampang, Ndra?”

“Gampang gimana.”

“Tanya saja sama cewek.”

“Kok bisa, Gus?”

“Penelitianmu bisa langsung sukses. Karena cewek selalu benar.”

Esok pagi, Mandra sudah mendapat responden perempuan.

“Tapi kamu harus kasih aku kepastian dulu, Ndra,” kata Erzafira.

“Kepastian bagaimana?” Mandra bingung.

“Kepastian bahwa perempuan selalu benar.”

Mandra terdiam sejenak.

“Aku tidak bisa memastikan itu, Er.”

Erzafira mengangguk.

“Kalau begitu kita selesai.”

“Lho, Er. Penelitian baru juga mau dimulai.”

“Maaf, Ndra. Aku tidak suka cowok yang tidak punya kepastian.”

Erzafira pergi meninggalkan Mandra yang masih bengong di tempat.

Mandra membuka lagi data PISA yang sempat ia baca. Kalau kemampuan laki-laki dan perempuan dalam sains ternyata tidak jauh berbeda, berarti soal siapa yang “lebih pintar” bukan jawabannya.

Mandra teringat firman Allah:

Inna sa‘yakum lasyattā. Sesungguhnya usaha manusia memang beraneka macam.

Mungkin begitu pula dengan kecenderungan manusia. Tidak semua orang merasa nyaman menempuh jalan yang sama, meskipun kemampuan mereka bisa jadi tidak jauh berbeda.

Mandra akhirnya menemukan satu kemungkinan.

Mungkin bukan soal siapa yang lebih pintar, tetapi kecenderungan mana yang lebih dekat dengan mereka.

Mandra baru saja menutup buku ketika Agus datang dan menjatuhkan diri di sebelahnya.

“Ndra. Aku punya target.”

Mandra menoleh. “Apa?”

“Juara kelas.”

Mandra terdiam. Ia melihat Agus. Lalu melihat buku MRI. Lalu kembali melihat Agus.

“Serius? Kenapa kamu malah malas-malasan?”

Agus duduk tegak.

“Jalur belajar serius itu mainstream, Ndra. Aku ingin jalur alternatif.”

Mandra menatap Agus cukup lama. Ia lalu menutup buku MRI.

Rupanya ayat itu benar: Inna sa‘yakum lasyattā. Sesungguhnya usaha manusia memang beraneka ragam. Ada yang berjuang lewat jalur mainstream, ada pula yang berjuang lewat jalur ekstrem.

Setiap orang punya kecenderungannya masing-masing. Hanya saja, kecenderungan Agus tampaknya bukan menuju puncak prestasi, melainkan menuju dasar jurang degradasi.

MAN, 7-19 Agustus 2026

*NB: Terima kasih untuk kelas XII MIPA 1 atas kesediaannya menjadi responden dadakan kayak tahu bulat… 😁

**NB lagi: Programme for International Student Assessment (PISA) adalah suatu studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang diikuti oleh lebih dari 70 negara di seluruh dunia. Setiap 3 tahun, murid-murid berusia 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak, menempuh tes dalam mata pelajaran utama yaitu membaca, matematika dan sains. Tes ini bersifat diagnostik yang digunakan untuk memberikan informasi yang berguna untuk perbaikan sistem pendidikan. Indonesia telah berpartisipasi dalam studi PISA mulai tahun 2000.