Riset MRI#006 Sakit, Dosa, dan Gorengan Kantin Madrasah
Rif’an Anwar
Sejak riset Hukum Kekekalan Pulpen dan Kacamata Setelan Pabrik, Mandra mulai curiga bahwa manusia memang punya hobi menghakimi.
Pulpen hilang, langsung menunjuk tersangka.
Melihat kegiatan menyiksa, langsung memakai kacamata minus.
Hari itu, di kelas Akidah Akhlak, ia menemukan sasaran baru yang ternyata tidak kalah sering dihakimi: orang yang sedang sakit.
Materi pelajaran Akidah Akhlak kali ini tentang adab menjenguk orang sakit. Keseruan tercipta karena Pak Yusyik membebaskan kelas untuk berkreasi dalam mapel ini.
“Hari ini kita akan membuat simulasi tentang adab menjenguk orang sakit. Langkah pertama, temukan orang yang sakit. Jika tidak menemukan, buat orang itu sakit!”
Seluruh kelas tertawa.
“Pak, itu karangan bapak atau memang ada di kurikulum?”
“Apanya?”
“Yang bikin orang sakit itu, Pak?”
“Dua-duanya!”
Kelas kembali tertawa.
Akhirnya dibikinlah kelompok-kelompok untuk simulasi menjenguk orang sakit. Singkat kata, karena tidak menemukan orang sakit, mereka tidak sampai hati harus memukuli teman sendiri, salah satu teman diminta pura-pura sakit.
Dimulailah drama penjengukan yang malah tidak ada sedih-sedihnya itu. Semua tertawa-tawa cekakakan.
Ada teman yang akting sakit parah sampai napasnya sudah senin-kemis.
“Apa pesan terakhirmu?”
“Somai depan koperasi madrasah.”
Kelompoknya Faza membawa parcel buah sebagai properti simulasi. Tapi baru sampai di depan “pintu rumah” si sakit, jeruk dan pisangnya sudah habis dipreteli dan dimakan sendiri oleh para penjenguknya.
Intinya, simulasi adab menjenguk orang sakit ini malah tidak beradab. Harusnya jaga ketenangan, malah ramai. Harusnya memberi semangat, malah mem-bully.
“Sakitnya tambah lagi, dong…”
Bahkan, si penjenguk malah ada yang membacakan doa mau makan karena nggak hafal doa menjenguk orang sakit.

Mandra turut mengamati semua proses pelajaran yang penuh canda tawa hari ini. Ia juga turut tertawa-tawa bersama teman-temannya. Namun, sebagai ketua MRI, jiwa penyelidiknya bangkit ketika Pak Yusyik menyatakan bahwa salah satu hikmah di balik sakit adalah sebagai penggugur dosa.
Sehabis istirahat, Mandra mendapati Agus sedang mengerang di pojok kelas.
“Kenapa kamu, Gus?”
“Sakit perut, Ndra.”
“Salah makan?”
“Nggak.”
“Belum makan?”
“Enggak. Pokoknya enggak tahu, Ndra. Semua normal-normal saja. Tapi tiba-tiba perutku sakit.”
“Kamu dari mana tadi?”
“Kantin.”
“Makan apa di sana?”
“Tempe goreng tiga.”
“Dan cuma bayar dua?”
“Kok tahu kamu, Ndra?”
Surya turut menyela, “Itu yang bikin sakit perut. Sakit itu bisa jadi penggugur dosa gorengan yang kamu embat, Gus.”
Di waktu lain, ada Bagas yang sudah sakit tiga hari dan teman-teman sekelasnya akan besuk.
“Gas,” kata Surya. “Kamu makan gorengan tiga di kantin dan cuma bayar dua, ya?”
“Nggak, Sur. Jangan ngawur. Saya sakit karena jatuh dari sepeda.”
Mandra mencatat dua kasus itu di buku riset MRI-nya. Agus sakit perut setelah ngambil gorengan. Bagas sakit karena jatuh dari sepeda. Tapi yang membuatnya bingung: Agus lebih sering ngambil gorengan tanpa bayar daripada sakit perutnya. Sedangkan Bagas yang rajin salat dan tidak pernah ngutil, malah jatuh dari sepeda.
“Jadi, Agus sakit karena dosa gorengan, Bagas sakit karena kecelakaan. Tapi Agus jarang sakit, Bagas malah sakit tiga hari. Ini tidak masuk akal,” gumam Mandra. “Kalau sakit bisa menggugurkan dosa, lalu bagaimana dengan Agus yang sering ngutil tapi jarang sakit?”
Ia pun memutuskan bertanya kepada Pak Yusyik.
“Pak, saya bingung.”
“Bingung apa, Ndra?”
“Katanya sakit itu bisa jadi penggugur dosa. Tapi kenapa Agus yang sering ngambil gorengan kantin jarang sakit, sedangkan Bagas yang baik malah jatuh dari sepeda dan sakit tiga hari? Cara kerja penggugur dosanya bagaimana, Pak?”
Pak Yusyik tersenyum.
“Ndra, kalau setiap dosa langsung dibalas dengan sakit perut instan, bohong langsung sariawan, nyontek langsung migrain, dan ghasab pulpen langsung diare, maka manusia tidak akan pernah belajar menjadi baik dengan tulus. Tapi baiknya karena takut, bukan karena sadar.”
“Lalu sakit itu untuk apa, Pak?”
“Ada yang sebagai pengingat. Seperti Agus yang sakit perut, itu mungkin pengingat agar lain kali bayar gorengannya. Ada yang sebagai ujian. Seperti Bagas yang jatuh sepeda, itu mungkin ujian kesabaran. Ada sakit yang hanya Allah sendiri yang tahu alasannya.”
“Lalu bagaimana membedakannya, Pak? Mana yang pengingat, mana yang ujian, mana yang sakit wallahu a’lam?”
Pak Yusyik menatap Mandra. “Ndra, pertanyaanmu bagus. Tapi itu bukan pekerjaanmu. Kamu bukan panitia perhitungan amal. Tugasmu bukan menghitung dosa orang sakit atau menebak maksud Tuhan di balik sakitnya. Tugasmu adalah menjenguk, mendoakan, dan membantu, bukannya malah penasaran menyelidiki jenis sakit model apa. Menegur teman yang ngutil itu tugasmu sebagai sahabat. Tapi menyimpulkan bahwa sakitnya karena ngutil itu urusan Allah. Bedakan antara menegur perbuatan dan menghakimi takdir.”
Mandra terdiam. Ia membuka buku MRI-nya dan menulis kalimat penuh hikmah dari Pak Yusyik itu.
Hari itu, Mandra tidak menemukan jawaban pasti tentang hubungan antara sakit dan dosa. Ia juga gagal membuat sistem untuk membedakan sakit alami dan sakit wallahu a’lam.
Tapi Mandra menyadari bahwa manusia memang bukan panitia perhitungan amal perbuatan. Bukan jatahnya untuk menilai orang lain sakit karena banyak dosa atau karena banyak hutang. Tugas kita menjenguknya, mendoakannya, dan menyemangati agar cepat sembuh.
“Ndra,” kata Agus dari belakang. “Kalau aku nanti sakit lagi, besuk aku sambil bawa gorengan, somai, cilok, sama es teh dua bungkus, ya.”
“Gus, kamu minta dibesuk apa mau pesen Gofood?”
“Kalau bisa dua-duanya lah. Kan lumayan, Ndra.”
Ngleter-MAN, 16 Juni – 31 Juli 2026