Riset MRI#009 Efek Saitama dan Monster OMI
Rif’an Anwar
Setelah gagal menemukan jawaban pasti mengapa Kelas Khusus Akademik lebih banyak diisi perempuan, Mandra setidaknya membawa pulang satu kesimpulan: jenis kelamin bukan ukuran mutlak kecerdasan.
Dan beberapa minggu kemudian, kesimpulan itu mendapat bukti yang cukup menyenangkan.
Mandra menjadi juara kelas.
Teman-temannya memberi selamat. Guru-guru memuji. Ibunya bahkan sampai menjanjikan hadiah umroh kalau nilainya bisa ditukarkan dengan uang satu milyar.
Semua orang senang. Kecuali Mandra.
Ia justru duduk berteduh di bawah pohon lidah buaya, tempat merenung andalannya.

Bagi siswa lain, menjadi peringkat satu adalah tujuan. Bagi Mandra, justru di situlah muncul masalah baru.
Kalau sudah nomor satu, lalu harus mengejar siapa? Apa yang harus dilakukan untuk selanjutnya? Apa target lebih tinggi untuk ujian berikutnya? Dia sudah peringkat satu. Mentok. Tertinggi. Tidak ada peringkat yang lebih baik lagi.
Mandra seketika itu teringat salah satu tokoh anime favoritnya: Saitama.
Mandra merasa mengalami masalah yang agak mirip dengan Saitama. Bagi yang belum tahu, Saitama adalah tokoh utama dalam anime One Punch Man. Ia begitu kuat sampai semua musuh bisa dikalahkan hanya dengan satu pukulan. Kedengarannya menyenangkan. Tapi justru itulah masalahnya. Karena terlalu kuat, hidup Saitama menjadi membosankan. Tidak ada tantangan. Tidak ada lawan yang seimbang. Tidak ada alasan untuk berlatih lebih keras. Perasaan ini dialami juga oleh Mandra.
“Kalau sudah peringkat satu, terus mau ngapain lagi?” gumamnya.
Peringkat dua masih punya target untuk mengejar peringkat satu. Peringkat tiga punya target mengejar peringkat dua. Lha kalau sudah nomor satu? Mau mengejar siapa?
Sebagai peneliti muda, Mandra memutuskan melakukan riset. Hipotesis awalnya sederhana:
Manusia tidak berkembang karena pujian. Manusia berkembang karena tantangan.
Untuk menguji teori tersebut, Mandra mewawancarai beberapa siswa. Siswa pertama adalah Agung, pemilik peringkat dua.
“Targetmu apa?” tanya Mandra.
“Mengalahkan peringkat satu.”
“Peringkat satu siapa?”
“Kamu.”
“Oh.”
“Ah oh ah oh aja Kamu, Ndra, Ndra,” kata Agung.
Siswa kedua adalah pemilik peringkat lima, Surya.
“Targetmu apa?”
“Masuk tiga besar.”
“Kenapa?”
“Biar bisa ngalahin peringkat empat.”
Masih ada satu siswa peringkat buncit, Wanto.
“Kamu peringkat 30, To. Apa targetmu?”
“Targetku yang penting hidup, Ndra,” jawab Wanto.
“Masak begitu,” desak Mandra.
“Yah, kalau kamu memaksa, setidaknya pas lulus aku ingin di peringkat 29. Maju satu peringkat.”
Dari wawancara itu Mandra menemukan bahwa setiap orang memiliki musuh alami. Musuh alami itu biasanya berada satu tingkat di atas mereka. Peringkat dua mengejar peringkat satu. Peringkat lima mengejar tiga besar. Wanto mengejar peringkat 29.
Manusia rupanya membutuhkan sesuatu yang sedikit lebih tinggi dari dirinya untuk merasa perlu naik. Semua orang punya target. Kecuali dirinya.
Saat itulah Mandra teringat firman Allah tentang fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Tiba-tiba ia menemukan pertanyaan baru. Bagaimana seseorang bisa berlomba kalau tidak ada yang dikejar? Bagaimana mau berjuang kalau lawannya ternyata tidak lebih baik dari kita. Nggak usah berusaha pun, kita sudah bisa menang.
Kalau tim sepakbola MAN menang sama tim SMP, itu bukan prestasi. Tapi kalau menang lawan Persib Bandung, itu baru berita nasional. Maka Mandra mencatat kesimpulan sementara dalam buku riset MRI miliknya:
Siapa lawanmu ikut menentukan kualitasmu. Lawan yang hebat akan memaksa kita menjadi lebih hebat. Lawan yang kuat membuat kita menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak pernah kita gunakan.
Mandra lalu teringat tokoh lain yang juga menjadi favoritnya: Goku dari anime Dragon Ball. Berbeda dengan Saitama, hidup Goku selalu dipenuhi lawan yang lebih kuat. Setelah mengalahkan Frieza, muncul Cell. Setelah Cell muncul Majin Buu. Setelah Buu muncul lagi musuh-musuh lain yang lebih mengerikan.
Karena itulah Goku tidak pernah berhenti berlatih. Ia selalu punya alasan untuk berkembang.

“Jangan-jangan,” pikir Mandra, “lebih baik jadi Goku daripada jadi Saitama.” Pikiran itu membuatnya teringat sebuah doa yang pernah ia dengar.
“Ya Allah, pertemukan aku dengan orang-orang yang lebih baik daripada diriku.”
Dulu doa itu terdengar aneh. Mengapa harus bertemu orang yang lebih hebat? Bukankah lebih enak jadi yang paling hebat?
Kini Mandra mulai memahami maknanya. Kalau kita selalu menjadi yang terbaik di lingkungan kita, kita mudah puas. Tapi ketika bertemu orang yang lebih pintar, lebih saleh, atau lebih berprestasi, kita dipaksa untuk terus belajar. Kesombongan kita tertahan. Potensi terbaik kita dipaksa keluar.
Mandra sadar kalau dia harus keluar dari zona nyaman. Kalau di kelasnya dia sudah tidak punya “lawan” yang sepadan untuk memicu semangat belajarnya, maka dialah yang harus mencari komunitas baru—entah ikut olimpiade luar sekolah, gabung forum diskusi, atau sengaja nongkrong sama kakak kelas yang jenius.
Mandra akhirnya memantapkan langkah menuju Ruang OMI (Olimpiade Madrasah Indonesia). Di sana adalah sarang para “monster” akademik madrasah. Targetnya adalah Kak Arfan, senior kelas XII yang baru saja menyabet medali perak tingkat nasional di bidang Fisika. Di mata Mandra, Kak Arfan adalah Final Boss yang tepat untuk menguji sisa-sisa kecerdasannya.
Dengan membawa buku riset MRI-nya, Mandra masuk ke ruangan yang sepi itu. Ia mendapati Kak Arfan sedang berdiri di depan papan tulis, menatap coretan rumus yang rumitnya menyerupai mantra pemanggil jin.
Mandra menyampaikan kegelisahannya tentang kurangnya gairah karena menjadi peringkat pertama di kelas X.
“Pas banget, kamu ke sini Ndra! Di sinilah tempatnya kalau mau nyari tantangan. Aku dari tadi pusing tujuh keliling nyari partner buat mecahin soal latihan OMI Nasional bab Mekanika Kuantum dan Termodinamika Tingkat Lanjut. Sini, coba kamu bantu aku hitung fungsi gelombang dan entropi sistem pada lubang hitam ini. Ini seru banget, asli!”
Begitu melihat soal, kepalanya langsung pening. Yang dilihat kumpulan huruf Yunani kuno (α, β, γ, θ) yang berderet tidak teratur. Tidak ada Goku atau Saitama di sana. Lima menit berlalu dalam diam. Jangankan menjawab, membaca soalnya saja ia tidak tahu harus dari sebelah kiri atau kanan.
“Gimana, Ndra? Sudah ketemu variabel pembaginya? Seru, kan?” tanya Kak Arfan.
Mandra bingung mau jawab apa.
“Maaf, Kak Arfan. Tiba-tiba otak saya, eh, perut saya mules. Saya permisi ke toilet dulu… mau mengeluarkan isi otak saya ke kakus.”

Mandra berjalan keluar dengan cepat. Entah menuju kamar mandi atau malah kamar mayat. Buku riset MRI-nya ia pegang erat-erat, takut huruf-huruf Yunani kuno itu meloncat masuk ke dalamnya. Hari itu, Mandra membawa kesimpulan riset terbaru.
Berdoa meminta lawan yang lebih hebat itu memang bagus untuk memicu gairah belajar. Tapi pastikan lawan yang datang itu masih sesama manusia, bukan alien berkedok kakak kelas. Menjadi Saitama memang membosankan. Tapi menjadi Goku dan langsung melawan Final Boss adalah bunuh diri akademik.
MAN, awal Juni – 20 Agustus 2026