Riset MRI#010. Monster di Barisan Belakang
Rif’an Anwar
Setelah insiden “kakus dan lubang hitam” di ruang OMI kemarin, Mandra memutuskan membatalkan ambisinya untuk menjadi Goku. Menantang alien berkedok kakak kelas ternyata buruk bagi mental dan perutnya.
Mandra kembali ke kelas XA dengan status lamanya: Saitama lokal. Di ruangan ini, dia tetap yang terpintar.
Ketika melihat teman-temannya remedial massal pada pelajaran Kimia, Mandra memandang teman-temannya dengan sinis. Ia menatap Wanto, anak barisan belakang yang jangankan dapat nilai seratus, mengumpulkan tugas tepat waktu saja sudah dianggap sebagai keajaiban madrasah.
Mandra membuat catatan baru di buku riset MRI miliknya:
Kecerdasan akademik adalah ukuran paling penting dalam ekosistem sekolah. Orang yang tidak menguasai rumus akan selalu butuh bantuan orang yang menguasai rumus.

Namun, sebuah peristiwa di jam kosong hari Rabu mengubah total seluruh isi buku risetnya.
Hari itu, guru Akidah Akhlak tidak hadir. Pak guru sedang sibuk menyiapkan Lomba OMI. Kelas XA yang dasarnya berisi remaja hiperaktif langsung berubah menjadi pasar malam.
Di tengah kegaduhan itu, sebuah konflik pecah. Doni dan Fajar terlibat pertengkaran serius hanya karena masalah sepele: Fajar tidak sengaja menyenggol meja Doni sampai kuah baksonya tumpah ke buku tugas.
Suasana kelas mendadak senyap. Ketegangan naik ke level maksimal. Tiba-tiba Doni berdiri. Meja digebrak. Fajar pasang kuda-kuda. Baku hantam 3…2…1…
Mandra freeze. Rumus gaya gerak lurusnya hilang. Otaknya paham teori, badannya enggak.

Tepat sebelum baku hantam terjadi, Wanto bangkit dari tidurnya di pojok belakang. Dengan seragam yang keluar sebelah, Wanto berjalan santai ke tengah arena konflik. Wanto merangkul pundak Doni yang sedang emosi, lalu menyodorkan segelas es teh miliknya yang baru diminum setengah.
“Minum dulu, Don. Setannya lagi haus itu, makanya bikin kamu panas. Lagian buku tugasmu yang kena kuah bakso kan tentang bab menahan amarah, nanti tak bantu nahan marahnya pas istirahat kedua. Beres, toh?” kata Wanto sambil tersenyum tulus.
Ajaib. Es teh setengah + 1 kalimat. Perang dunia ke-3 batal. Konflik yang hampir membuat seisi kelas masuk ruang BK itu mencair dalam waktu kurang dari satu menit.
Mandra tertegun di bangkunya. Ia menatap Wanto yang kini sudah kembali ke pojokan kelas untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Otak Mandra yang biasanya dipakai menghitung angka langsung berputar merenungkan kejadian tadi. Nilai rapor Mandra boleh saja sempurna, tapi dia sadar, dalam urusan membaca hati manusia, menenangkan jiwa yang kalut, dan membawa kedamaian, dia bukan apa-apa dibanding Wanto. Nilai matematika tidak bisa meredam amarah orang.
Pada saat istirahat, Pak Yusyik yang barus saja selesai membimbing peserta OMI menyapa Mandra. Kabar Mandra yang berkunjung ke markas OMI untuk mencari lawan sampai ke telinga Pak Yusyik.
“Ndra, kamu tahu peribahasa bahasa Arab, Li kulli syai’in maziyyah,” kata beliau.
“Tidak, Pak,” jawab Mandra.
“Ndra, setiap sesuatu pasti memiliki keistimewaan tersendiri. Kamu pernah dengar kisah Nabi Musa dan seekor anjing?”
“Belum.”
“Mau saya ceritakan?”
“Tidak, eh, iya Pak. Mau.”
“Suatu ketika Nabi Musa diminta Allah mencari seseorang yang lebih rendah daripada dirinya. Musa mencari ke mana-mana. Mendaki gunung lewati lembah. Mencari manusia, kepada hewan, bahkan sampai bertemu seekor anjing yang tubuhnya penuh kudis dan tampak sangat buruk rupa. Musa sempat berpikir anjing itu lebih rendah darinya. Akan tetapi, di tengah jalan Nabi Musa melepaskan anjing tersebut.”
“Kenapa, Pak?”
“Karena Nabi Musa sadar, ia tidak tahu kedudukan makhluk itu di sisi Allah. Bisa jadi anjing itu lebih baik daripada dirinya. Lalu kemudian Nabi Musa kembali menghadap Tuhan, sambil berkata: “Tuhan, aku tidak menemukan seorangpun yang aku lebih baik darinya”.
“Tuhan lalu berfirman: “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang membawa seseorang yang kamu pikir, kamu lebih baik dari pada dia, maka Aku akan hapus namamu dari daftar kenabian”.

Pak Yusyik mengambil jeda sejenak.
“Kesimpulannya? Silahkan kamu pikir sendiri,” Pak Yusyik menyudahi kuliah tujuh menitnya.
Mandra berdiri terpaku. Langkah Pak Yusyik yang menjauh ditatapnya dengan pandangan kosong. Cerita Pak Yusyik barusan seperti cermin besar yang memperlihatkan betapa kecilnya seorang juara kelas bernama Mandra.
Mandra perlahan membuka buku riset MRI miliknya. Dengan perasaan penuh hormat dan kepala yang tertunduk, ia mencoret hipotesis lamanya tentang “kasta kecerdasan”, lalu menuliskan kesimpulan riset yang paling jujur dalam hidupnya:
Ranking di atas kertas hanyalah satu angka kecil yang sempit. Setiap orang punya keistimewaannya masing-masing. Orang hebat adalah orang yang bisa belajar dari siapapun.
Sejak hari itu, Mandra tidak lagi memandang barisan belakang kelas dengan tatapan superior. Di bawah pohon lidah buaya, ia tetap merenung. Tapi kali ini bukan untuk mencari lawan yang lebih hebat, melainkan bersiap untuk menjadi murid bagi siapa pun yang ditemuinya. Karena di atas langit masih ada langit, dan di barisan belakang kelas, selalu ada pelajaran yang tidak tertulis di buku paket sekolah.

MAN, 1 September 2026