Riset MRI #012 Toilet Multiverse atawa Fungsi Toilet yang Tak Terduga
Setiap tempat pasti punya toilet. Itu adalah properti wajib yang tidak bisa ditawar. Manusia punya jadwal rutin untuk membuang sisa-sisa metabolisme tubuh, dan toilet adalah tempat sempurna untuk itu. Tanpa toilet, manusia mungkin akan musnah lebih cepat daripada janji sang pujaan hati.
Kondisi toilet di MAN sangat baik. Bapak Kepala Madrasah pernah menyatakan bahwa jika ingin mengecek bagaimana kondisi asli sebuah madrasah, lihatlah toiletnya. Toilet adalah cermin nyata kondisi riil sebuah madrasah. Kalau bersih dan rapi, begitu jugalah kondisi madrasah secara keseluruhan.
Tidak heran, kondisi toilet di MAN selalu bersih dan wangi di awal hari. Setiap pagi, petugas kebersihan menyikat lantai, mengisi sabun, dan memastikan semuanya dalam keadaan prima.
Namun dalam waktu tidak lebih dari istirahat pertama, kondisi toilet sudah berubah seperti kapal pecah. Bau-bau mulai menyengat. Bola-bola pengharum WC segede bola basket langsung menguap jadi sebesar atom. Dan pintu-pintu melakukan pemberontakan: mereka tidak mau ditutup dengan benar.
Mandra, sebagai ketua MRI, merasa perlu menyelidiki fenomena ini. Ia memutuskan melakukan survei “toilet multiverse”. Sebuah istilah yang ia ciptakan sendiri karena terlalu sering nonton film Marvel. Toilet MAN bukanlah satu tempat dengan satu fungsi, melainkan banyak realitas paralel yang terjadi di sana.
Realitas Pertama: Toilet Sebagai Tempat Bisnis
Mandra baru saja masuk ke toilet putra ketika ia mendapati Agus sedang asyik melakukan tindakan misterius di dalam bilik. Agus kaget setengah mati. Sadar posisinya terancam dilaporkan ke guru BK, Agus langsung menyodorkan benda misterius ke arah Mandra.
“Ndra, ni satu,” tawar Agus dengan senyum canggung.
“Saya ndak begituan, Gus.”
“Oya. Santai, Ndra. Nanti kita ke kantin. Silahkan makan semaumu. Gorengan tiga, bayar dua. Kuota aku kasih.”
Mandra tercengang. Ini adalah bentuk sogokan kecil-kecilan. Keahlian menyuap, pikir Mandra, ternyata bisa mulai diasah sejak dini. Agus baru kelas 10, tapi teknik menyuapnya sudah level menengah.
“Gus, ini toilet, bukan ruang transaksi bisnis.”
“Ya, transaksi bisnis juga butuh toilet to, Ndra.”
Mandra menggeleng dan keluar.

Realitas Kedua: Toilet Sebagai Tempat Curhat
Tak berapa lama, Mandra melihat Rina keluar dari dalam toilet.
“Kenapa kamu, Rin?”
Rina hanya menggeleng.
“Kamu nangis?”
“Aku di sini udah setengah jam, Ndra,” jawab Rina pelan. “Di kelas nggak enak. Di lapangan panas. Di toilet ini nyaman. Sepi. Nggak ada yang nanya-nanya.”
“Sampai setengah jam?”
“Iya. Aku belajar di sini.”
“Belajar apa?”
“Belajar menerima mantan jadian dengan teman.”
Mandra tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya duduk di samping Rina tanpa bicara. Mandra ingin menawarkan bahunya untuk bersandar, tapi teringat dia bukan mahrom.

Realitas Ketiga: Toilet Sebagai Latihan Pertahanan
Di toilet sebelah timur ruang olahraga, Mandra mendapati rombongan siswa sedang asyik menjaga pintu. Mereka berbaris rapi di depan pintu toilet yang rusak.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Mandra.
“Kami disuruh Sulaiman menjaga pintu kamar mandi,” jawab Wanto dengan muka serius.
“Sulaiman? Nabi?”
“Bukan, Ndra. Sulaiman anak kelas X J. Pintunya berontak ndak mau ditutup. Makanya kami jaga. Biar tidak ada yang masuk sembarangan.”
“Tapi, kenapa harus ramai-ramai begini? Kan cukup satu orang saja yang jaga.”
“Perlawanan pintunya berat, Ndra. Ya kan, Man?”
“Ya, Bro. Tolong tahan yang kencang, selotnya lepas ini!” sebuah suara menjawab dari dalam bilik.
Mandra menutup mata. Ini sudah di luar akal sehat.

Realitas Keempat: Toilet Sebagai Medan Perjuangan
Keesokan harinya, Mandra mewawancarai Pak Salim, petugas kebersihan madrasah.
“Pak, bagaimana perasaan Bapak membersihkan toilet setiap hari?”
“Biasa saja, Mas. Ndak ada yang istimewa.”
“Bapak kan sudah membersihkan tiap pagi, tapi kok bisa langsung kotor lagi?”
“Itu yang saya heran, Mas. Padahal kan pak Jalal sering mengingatkan: Kebersihan itu sebagian dari iman. Kok ya masih pada jorok. Rasanya seperti berperang melawan kotoran, dan kotoran selalu menang.”

Mandra mencatat kata-kata Pak Salim di buku MRI-nya.
Kebersihan sebagian dari iman. Tapi kalau kebersihan sebagian dari iman, kenapa toilet MAN lebih sering kotor daripada bersih? Mungkin iman siswa MAN hanya bertahan sampai bel istirahat pertama. Begitu bel berbunyi, iman turun drastis, digantikan Imron.
Mandra merenung sejenak. Mungkin masalahnya bukan pada seberapa sering toilet dibersihkan, tapi pada seberapa lama iman seseorang bertahan ketika tidak ada yang mengawasi.
Tiba-tiba Mandra sendiri harus menggunakan toilet. Perutnya mules. Ia masuk. Di dalam, pikirannya sibuk dengan kesimpulan penelitian kali ini. Ia membuka buku MRI dan menulis.
Hipotesis MRI#012:
Fungsi toilet memang sangat banyak. Namun ada satu fungsi yang ternyata masih belum berubah sejak manusia pertama kali membuatnya. Fungsi itu—
Seseorang dari luar berteriak mengagetkan Mandra.
“Ndra, cepetan! Ini toilet, bukan ruang penelitian!”

MAN, 18 Juni-17 September 2026