Riset MRI #16. Santri Beda Server: Renungan Hari Santri Nasional
Menyambut Hari Santri Nasional, Mandra punya keinginan untuk merasakan dunia santri secara langsung. Ia bertanya pada Surya apakah dia bisa ikut ke pondoknya dan merasakan semalam di pesantren.
“Bagus, Ndra. Siapa tahu nanti kamu tertarik mau mondok.”
“Aku penasaran, Sur. Siapa tahu bisa jadi bahan penelitianku berikutnya,” balas Mandra.
“Lah, ujung-ujungnya mau riset…”

Waktu sudah ditentukan. Sabtu sore besok Mandra akan mulai perjalanan menginap satu malamnya di pondok Surya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari MAN. Banyak juga santri selain Surya yang sekolah di MAN.
Begitu sampai di pesantren, Mandra teringat lirik sebuah lagu berjudul “Kota Santri”.
Suasana di kota santri
asyik senangkan hati
Muda-mudi berbusana rapi
Menyandang kitab suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang pergi mengaji
Malam itu, Mandra ikut shalat Isya berjamaah di masjid pondok. Ia berdiri di saf paling belakang, mengamati. Tidak ada yang datang terlambat dan asyik mengobrol. Tidak ada yang bermain HP. Semua HP diminta untuk mengaji secara mandiri.

Mandra melanjutkan pengamatannya semalaman hingga saat bangun esok harinya. Semua mengherankan Mandra. Sungguh adab dan perilaku santri amat santun dan lembut. Tidak ada yang berani bersuara keras. Saat mengaji, suasana khusyu’ tanpa suara selain Pak Kiai. Walau ngantuk sekalipun, tidak ada yang ngorok. Walau terpaksa ngorok, mereka melakukannya dengan sopan. Bila bertemu kiai, semua menunduk dan mencium tangan dengan tertib.

Mandra mencatat semua itu dalam buku MRI-nya. Ini akan jadi oleh-oleh yang bagus bagi anak-anak MAN yang sebentar lagi akan memperingati Hari Santri.
Senin harinya, Mandra kembali ke madrasah. Ia melihat siswa saling cekakakan satu sama lain. Tidak jarang dengan guru juga begitu. Bahkan, berbeda sekali dengan dunia santri kemarin, siswa bahkan ada yang berani menjawab saat ditegur. Mengapa ini bisa terjadi?
“Menurutmu kenapa, Sur?”
“Di Pesantren, pak Kiai itu sudah seperti orang tua plus. Pak Kiai juga merawat jiwa kita. Beliau semacam orang tua Ruhani. Jadi tidak heran kalau di pesantren adab anak-anaknya bagus.”
“Berarti di MAN ini, guru tidak dianggap orang tua, Sur?”
“Ya, bisa jadi. Kan kita diajar banyak guru. Kadang kita aja nggak kenal yang ngajar mapel PKWU itu siapa.”
“Saking nggak kenalnya,” Agus memotong kata-kata Surya, “bahkan aku pernah tanya pada seorang guru, ‘maaf, Bu, di mana ya guru Ekonomi?’ Lha ternyata gurunya itu yang sedang aku tanya. Kocak bener.”
Semua tertawa mendengar cerita Agus.

“Ndra, kalau mau, aku bawakan santri lain biar kamu wawancarai,” kata Surya.
“Boleh, Sur,” jawab Mandra.
Tak lama, Surya datang lagi dengan menenteng temannya dengan dua jarinya.
“Nih, Ndra, kubawain Haikal kalau mau dispeak-speak.”
“Kal,” Mandra langsung mulai. “Kenapa akhlak anak pesantren dan sekolah beda?”
“Aku tidak tahu kamu ngomong apa, Ndra. Tapi ya aku cuma ngikut-ngikut kebiasaan aja, Ndra. Semua orang di pesantren hormat dan ta’zim dengan Kiai. Jadi aku juga begitu. Di sekolah kan macem-macem modelnya.”
“Jadi, itu karena faktor lingkungan?”
“Ya, nggak tahu juga.”
Mandra masih belum menemukan alasan yang memuaskan kenapa perbedaan adab ini bisa terjadi. Mandra keluar kelas dan menuju rindangnya pohon lidah buaya.
Belum selesai dia bingung, ada fenomena lain lagi. Siswa yang sama bisa mencium tangan kiai, menunduk ketika lewat di depannya, dan menyimak nasihat beliau dengan khusyuk. Namun, ketika kembali ke madrasah, ia mengobrol saat guru menjelaskan, menunda tugas, atau menjawab teguran dengan enteng.
Kenapa ada santri yang bisa berbeda kelakuannya antara di pesantren dengan di sekolah?
“Ndra,“ kata Bahrul yang ikut bergabung dengan Mandra di bawah pohon lidah buaya. Surya dan Agus juga turut serta. “Mungkin ada yang kurang dalam pengamatanmu?”
“Kurang apanya?”
“Kurang ajar,” sahut Agus sambil tertawa.
“Kamu tahu, Ndra,” sambung Agus. “Pak Kiai itu sakti. Punya karomah. Aku denger bahkan ada yang bisa shalat Jumat di Mekah segala. Kalau Kiai sesakti itu, ya santrinya bakal takut dan hormat.”
“Hus, ngawur kamu, Gus,” balas Surya. “Kamu terlalu mudah termakan kabar burung. Memang pak Kiai itu teladan. Hidupnya sederhana, lembut, sehingga kami jadi segan terhadap beliau. Dan tidak setiap santri berbeda perlakuannya dengan Kiai atau pun guru di madrasah.”

“Kalau yang beda gimana, Sur?” tanya Agus.
“Mungkin beda server. Jadi dia bisa berubah-ubah adabnya sesuai servernya.”
“Mungkin bukan tempatnya yang berpengaruh,” Bahrul kembali berkata. “Tapi apakah adab muncul karena kesadaran pribadi, atau karena kebiasaan dan tuntutan lingkungan. Itu yang membedakan.”
“Jadi,” kata Mandra menanggapi Bahrul. “Ada takzim hanya kepada sosok yang dianggap istimewa dan ada adab sebagai karakter yang seharusnya melekat di mana pun seseorang berada?”
“Ya. Itu intinya,” jawab Bahrul. “Persoalannya bukan karena santri terlalu menghormati kiai. Justru bagus kalau mereka menghormati kiai. Yang perlu dipertanyakan adalah kalau penghormatan itu berhenti pada sosok tertentu, lalu tidak terbawa ketika mereka berhadapan dengan guru di madrasah.”
“Itu bentuk kezaliman berarti,” Agus melontarkan kalimat yang langsung bikin alis semua orang terangkat.
“Maksud, Lo?”
“Ya kenapa membeda-bedakan antara Kiai dan Guru. Kan sama-sama mengajarkan ilmu.”
“Kamu sendiri juga sering tidak hormat pada guru, Gus?” balas Mandra.
“Tapi aku juga tidak hormat pada Kiai,” jawab Agus tanpa rasa berdosa.
“Lha emangnya kamu mondok?”
“Enggak. Makanya aku tidak membeda-bedakan… hahaha!”
Mandra geleng-geleng kepala dengan kelakuan Agus. Ia mengambil buku dan menulis catatan.
Hipotesis MRI#016
Apakah kita menghormati seseorang karena kedudukannya, atau karena nilai yang kita hormati dalam dirinya?
Jika kita hanya menghormati sosok tertentu, adab kita mungkin baru sebatas permukaan. Kita bersikap santun karena orang itu memiliki kedudukan istimewa, karena lingkungan menuntutnya, atau karena kita takut dianggap tidak sopan.
Padahal, adab seharusnya tidak berhenti pada satu tempat atau satu sosok. Bentuk penghormatan memang bisa berbeda, tetapi kesadaran untuk menghormati orang lain semestinya tetap sama.
Jangan sampai adab kita hanya aktif ketika terhubung ke server tertentu. Begitu pindah dari pesantren ke madrasah, sinyalnya mendadak hilang.
Mandra berhenti menulis. Ia melirik Agus.
“Gus, kalau adabmu sendiri pakai server apa?”
“Server gratisan, Ndra. Makanya sering putus koneksi.” [Rif’an Anwar]
MAN, 15-18 Oktober 2026