Riset MRI #017. Sedia Sejarah Sebelum Hujan
Hari ini ada pelajaran Sejarah. Agus berlari ke kelas membawa berita besar.
“Gaes! Bu Nila lagi ditraktir bakso sama Pak Hisam!”
Wanto langsung menoleh.
“Gratis? Kalau nyusul aku bakalan ditraktir juga nggak?”
Bahrul mengangkat kepala.
“Yang penting bukan siapa yang mentraktir.”
“Lalu?”
“Kenapa semua berita tentang guru selalu lebih cepat daripada pengumuman madrasah.”

Keributan berhenti karena guru Sejarah mereka, Bu Nila, masuk.
“Cie cie habis ditraktir nie, Bu,” kata Agus menggoda.
Bu Nila menjawab, “Kalian kalau menghafal nama kerajaan secepat menghafal gosip guru, nilai sejarah kalian pasti sembilan puluh. Dan Agus, Pak Hisam itu iparku. Dia suami kakakku.”
Seketika kelas tertawa dan meneriaki Agus huuuuu….

“Sudah, sekarang hentikan becandanya. Kita akan belajar sejarah. Kenapa kalian belajar sejarah?”
“Biar lulus,” jawab Agus.
“Gus, lebih baik kamu nggak pernah lulus biar jadi peninggalan sejarah di MAN,” Wanto menimpali. “Dan kalau aku, Bu, belajar sejarah biar tidak remidi.”
Surya.
“Karena mencari ilmu. Walau kadang sambil tidur karena ngantuk.”
“Surya.”
“Iya Bu.”
“Ibu tahu kamu anak pondok. Tapi kalau mau tidur, jangan di sejarah.”
“Kenapa Bu?”
“Kasihan tokoh-tokohnya. Sudah capek-capek berjuang, kamu tinggal ngorok.”
Seisi kelas tertawa riang. Lalu Bu Nila melanjutkan.
“Kalau Kamu, Rul?”
“Saya ingin tahu kenapa manusia suka mengulang kesalahan.”
Bu Nila melirik Bahrul.
“Pertanyaanmu selalu bikin jam pelajaran terasa pendek.”
“Malah asyik, Bu,” Agus menjawab lagi.
“Gus, coba kamu pahami kata-kata Bahrul,” kata Bu Nila. “Ada peribahasa keledai tidak akan jatuh di lubang yang sama dua kali. Dan tipe seperti kamu itu selalu saja jatuh di lubang sama berkali-kali.”
“Masalahnya jatuhnya sudah hafal, Bu. Jadi enak.”
“Kamu memang manusia, bukan keledai,” lanjut Bu Nila. “Keledai cukup jatuh sekali untuk belajar. Manusia kadang jatuh berkali-kali, lalu menyalahkan lubangnya.”
Agus mengangguk.
“Benar juga, Bu.”
Bu Nila menatap Agus.
“Contohnya ya kamu, Gus.”
“Lho?”
“Semester lalu remedial.”
“Iya.”
“Semester ini?”
“Remedial lagi,” jawab Agus sambil cekikikan.

“Bu,” kata Bahrul sambil mengangkat tangan. “Saya punya pendapat.”
“Silakan.”
“Menurut saya…”
“Jangan panjang-panjang.”
“Kenapa?”
“Pendapatmu biasanya bagus di lima kata pertama. Kalau diteruskan, biasanya sampai bel pulang berbunyi belum selesai dan tetap tidak ada yang paham.”
Seluruh kelas tertawa mendengar respon Bu Nila. Tak terasa waktu pelajaran Sejarah telah berakhir. Begitu Bu Nila meninggalkan kelas, Agus masih sempet-sempetnya melanjutkan bergosip.
“Bu Nila itu cantik ya, To?”
“Aku tidak begitu memperhatikan,” balas Wanto.
“Serius?”
“Aku lebih memperhatikan kacamata beliau.”
Bahrul menyela, “Kacamata Bu Nila itu memang besar sekali.”
“Iya ya,” kata Agus.
“Mungkin supaya lebih mudah melihat kesalahan jawaban kalian,” Bahrul melanjutkan.
Mandra yang sedari tadi menyimak percakapan, menulis dalam buku MRI-nya:
Hipotesis MRI #017
Sejarah bisa berulang karena manusia tidak belajar dari sejarah. Buktinya, manusia sering mengulangi kesalahan yang sama meskipun sudah pernah mengalaminya.
Mandra mulai mencari bukti di lingkungan MAN.
Objek pertama: Agus
Mandra bertanya.
“Gus, semester kemarin kamu remedial Matematika?”
“Iya.”
“Belajar?”
“Belajar.”
“Semester ini?”
“Remedial lagi.”
“Berarti kamu tidak belajar dari sejarah.”
Agus langsung protes.
“Belajar kok.”
“Kok masih remedial?”
“Aku sekarang tahu ruang remedial paling adem.”
Hipotesis masih tampak benar. Yang tidak belajar dari sejarah akan mengulangi kesalahan yang sama.
Objek kedua: Wanto
“To, dulu waktu makan gorengan dua belas biji kamu sakit perut, kan?”
“Iya.”
“Sekarang?”
“Masih.”
“Kenapa masih makan sebanyak itu?”
Wanto menjawab dengan wajah polos.
“Aku sedang memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Kemarin sakit perutnya bukan kebetulan.”
Mandra menulis.
Objek kedua juga gagal belajar dari sejarah.
Objek ketiga: Surya
“Sur, kamu pernah ketiduran saat tadarus?”
“Pernah.”
“Sekarang?”
“Kadang-kadang. Makanya sekarang kalau ngantuk aku wudhu dulu supaya tidak terulang.”
Mandra berhenti menulis. Berarti… Ada manusia yang belajar. Hipotesis mulai goyah. Surya belajar dari kesalahan. Lalu apa yang membedakan mereka. Mandra pun menemui Pak Yusyik.
“Indra, mengapa Al-Qur’an sering mengulang-ulang cerita sejarah yang sama? Kisah Fir’aun disebut berkali-kali dalam surat yang berbeda.”
“Supaya kita tahu sejarahnya, Pak.”
“Emm.. kalau sekedar tahu, Iblis pun juga tahu.”
“Menurutmu Fir’aun itu bodoh?”
“Tidak.”
“Qarun?”
“Tidak.”
“Iblis?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa mereka salah?”
Mandra diam. Pak Yusyik tersenyum.
“Mereka tidak gagal karena kurang tahu. Mereka gagal karena kesombongan membuat mereka menolak apa yang sebenarnya sudah mereka ketahui. Karena mengetahui kebenaran tidak sama dengan memilih kebenaran. Yang Allah inginkan bukan hanya pengetahuan.”
“Lah, terus Pak?”
“Perubahan pilihan.”
Pak Yusyik berhenti sejenak.
“Ndra, sejarah tidak mengubah manusia. Manusialah yang mengubah sejarah. Allah tidak mengulang kisah Fir’aun supaya kita hafal namanya. Kalau kita melihat kisah Fir’aun lalu tetap memilih jalan Fir’aun, berarti kita tidak belajar dari sejarah.”
Mandra menyudahi obrolan dengan Pak Yusyik. Sepanjang perjalanan pulang, satu kalimat Pak Yusyik terus berputar di kepalanya.
Sejarah tidak mengubah manusia. Manusialah yang mengubah sejarah.

***
Esok harinya, Bu Nila kembali masuk kelas. Agus belum mengerjakan PR lagi. Bu Nila mengelus-elus kacamatanya yang seolah makin membesar dan berucap,
“Nah… Sejarah akhirnya benar-benar berulang,” ucap Bu Nila. “Dan khusus untuk Agus, kali ini diadakan ulangan mendadak. Dan kalau sampai Agus dapat menjawab dengan benar, Bu Nila yang akan pindah ngajar mapel lain.”
Seluruh kelas tertawa.
“Dan kalau Agus salah, Bu?”
“Biar Agus jadi soal sejarah untuk ulangan semester depan.”
Tawa bertambah makin keras.
Mandra membuka buku MRI. Di bawah hipotesisnya ia menulis satu kalimat kecil:
“Selama ini kukira sejarah adalah kumpulan cerita masa lalu. Ternyata sejarah lebih mirip payung. Kita membawanya bukan karena hari ini hujan, melainkan karena kita tahu hujan pernah turun, dan mungkin akan turun lagi.”
Mandra pun menutup buku MRI-nya perlahan, lalu kembali tenggelam dalam pelajaran sejarah hari itu. [Rif’an Anwar]

MAN, 11-13 Juli 2026