Riset MRI #014. Pasien Palsu dan Doa yang Salah Sasaran
Mandra bangun tidur dan mendapati tubuhnya terasa seperti habis diinjak-injak kambing satu RT. Badan panas dan tubuh terasa berat. Tapi Mandra tetap nekat pergi ke sekolah. Absensinya masih murni dari ketidakhadiran. Ia tidak mau menodai kesucian daftar hadirnya hanya karena sakit.
Di madrasah, apa daya tubuhnya tidak sanggup menahan deraan sakit yang menyapa. Ia memohon izin untuk ke UKS. Di sana, ia bertemu dengan Bu Khusna yang kemudian menempelkan termometer ke dahinya.
“Suhumu 38°, Ndra. Kamu fix demam,” kata Bu Khusna.
“Ya, Bu. Terima kasih atas waktunya. Semoga amal baik Ibu diterima di sisi-Nya.”
“Ngaco kamu, Ndra. Dikira saya meninggal apa? Cepet istirahat sana!”

Mandra membaringkan tubuhnya di kasur yang nyaman. Tak berapa lama, kedamaiannya terusik. Muncul siswa lain dengan gejala yang rupa-rupa.
“Bu, saya pusing,” kata Agus. “Ini karena semalam saya begadang main game.”
Bu Khusna memeriksa Agus. Dengan ragu beliau mempersilahkan Agus istirahat di UKS sambil memberi obat Bodrexin.

Tak lama, pintu terbuka lagi dan muncul Wanto.
“Perut saya sakit, Bu. Tadi habis makan gorengan tiga piring di kantin,” Wanto dengan meyakinkan memegang perutnya sambil meringis-ringis.
Bu Khusna menatap Wanto dengan tenang. Mau memberikan obat tapi ini jelas bukan sakit karena butuh dimasuki obat. Justru isi perut Wanto yang harus dikeluarkan.

Sudah dua orang, batin Mandra. Pasti akan menyusul gerombolan lain lagi. Dan benar. Bahrul datang dengan mata kuyu dan sempoyongan. Pasti kebanyakan tidur saat pelajaran.
“Bu, mata saya sakit karena kebanyakan tidur di kelas.”
Mandra mengamati mereka: semua bisa bergerak lincah, tidak ada gejala demam, tidak ada perut meriang, tapi mereka “sakit” dengan yakin.
Mandra membuat catatan di buku MRI (meskipun sedang sakit). Ia menulis:
Fenomena pasien palsu di UKS: siswa berbakat akting level Oscar, dengan keluhan yang sulit diverifikasi (pusing, sakit perut, mata pegal).
Ia bertanya pada Bu Khusna.
“Bu, apakah Ibu sering mendapat pasien palsu?”
Bu Khusna tersenyum,
“Ndra, sudah 10 tahun saya di sini. Saya hafal mana yang sakit sungguhan dan mana yang sakit ‘jadi-jadian’. Tapi saya tetap layani. Karena siapa tahu, meskipun fisiknya pura-pura sakit, mental mereka memang sedang butuh istirahat dari tekanan rumus biokimia.”
“Ibu terlalu baik untuk siswa berbakat “khusus” seperti mereka,” kata Mandra.
“Tapi kalau terus-terusan, tetap saya marahi, Ndra,” kata Bu Khusna sambil tersenyum.
Jiwa peneliti Mandra muncul saat itu. Sakit yang ia rasakan malah jadi bahan perenungan. Tiba-tiba ia bertanya.
“Bu, apakah ibu pernah mendoakan agar UKS ini ramai pasien? Karena kalau sepi, berarti UKS ini tidak berguna. Tapi kalau ramai, berarti banyak siswa sakit. Apa ibu akan mendoakan kami sakit?”

Bu Khusna kaget dengan pertanyaan Mandra yang agak kurang ajar. Tapi beliau tetap menjawab tenang,
“Ndra, saya tidak pernah mendoakan siswa sakit. Saya mendoakan mereka cepat sembuh. Kalau UKS ramai, itu bukan karena doa saya, tapi karena gorengan gratisan, atau karena siswa yang salah minum obat. Yang saya doakan adalah: semoga saya bisa membantu siapapun yang datang. Bukan menambah pasien, tapi menambah kesembuhan.”
Ya. Betul juga apa yang dikatakan Bu Khusna. Mandra terdiam. Tapi pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Bayangan dua dokter sedang berdiskusi di ruang prakteknya muncul begitu saja. Ia membayangkan mereka mengobrol.
“Wah, RS kita sepi minggu ini nih, Dok” kata Dokter Paijo.
“Ya, kita harus mujahadah,” balas Dokter Paimin.
“Sip. Minggu depan kita adakan mujahadah dengan tema: Dengan Doa, Kita Perbanyak Pasien dan Penuhi Kamar Rawat Inap.”
“Fix,” kata Dokter Paimin.
“Deal,” balas Dokter Paijo.
Mandra tersenyum-senyum sendiri membayangkan percakapan absurd itu. Apakah pihak rumah sakit secara rahasia berdoa agar banyak orang sakit sehingga pasien yang berobat ramai?

Saat ia membuka mata, ia kaget. Pak Yusyik sudah duduk di kursi di samping ranjangnya, tersenyum.
“Pak, kok di sini?”
“Ya, tidak biasanya putra kesayangan bapak tidak mengikuti pelajaran. Mumpung lewat, saya sempatkan cek kondisi kamu, Ndra.”
“Wah, Pak, ini kebetulan atau memang sudah takdir Tuhan. Saya ada pertanyaan ini, Pak.”
“Tidak bisa ditunda dulu sampai kamu sehat apa?”
“Ndak bisa, Pak. Kalau tidak dapat jawaban, sakit saya malah bisa nambah ini. Sakit biologis saya bisa komplikasi jadi sakit psikologis nanti,” rengek Mandra.
Mandra bercerita tentang Rumah Sakit dan mujahadah tadi. Pak Yusyik tertawa mendengar imajinasi kocak Mandra yang di luar nurul.
“Islam secara umum melarang mendoakan keburukan. Tapi dalam kasus orang teraniaya, boleh. Itu pun memaafkan lebih mulia. Meski boleh, tidak boleh berlebihan. Misal uang kita diambil teman hanya seribu, tapi mendoakan supaya HP-nya hilang, rumahnya kebakaran, bahkan celana dalamnya diambil orang. Itu namanya melampaui batas dan tidak boleh, Ndra.”
“Kalau kasus yang Rumah Sakit tadi, Pak?”
“Imajinasimu yang ketinggian, Ndra. Pihak rumah sakit tidak berdoa agar banyak orang sakit, tapi doa mereka agar orang yang berobat ke sana bisa sembuh dan mendapat pelayanan terbaik. Bukannya biar orang sehat jadi sakit. Mereka menjemput rezeki dari jalan menjadi wasilah kesembuhan, bukan pengundang penyakit. ”
“Siap. Masuk itu pak.”

Selepas istirahat, kondisi Mandra membaik. Mandra kembali ke kelas setelah demamnya sedikit turun. Ia melihat Agus, Wanto, dan Bahrul juga sudah kembali. Mereka ternyata “sembuh total” tepat setelah bel istirahat berbunyi.
“Gus, bisa-bisanya kamu ke UKS tadi. Sehat bugar begitu, kok?” protes Mandra.
“Aku sakit beneran, Ndra. Tadi aku benar-benar pusing mikirin cara agar tidak bisa ikut pelajaran Kimia,” Agus menjawab ngasal.
“Kalau kamu, To?”
“Kamu tanya saja pada gorengan tiga piring di perutku!” balas Wanto.
“Yang sakit bukan mata fisik, tapi mata batin, yang lelah memandang kenyataan hidup,” Bahrul mengucap dengan hikmat.
Mandra memandangi ketiga temannya. Aneh juga. Ia datang ke UKS dengan demam sungguhan, sementara ketiga temannya datang dengan penyakit yang entah sungguhan atau tidak. Namun semuanya bisa sembuh tepat ketika bel istirahat berbunyi.
Mandra membuka buku MRI dan menulis:
Di UKS, ternyata tidak semua orang datang untuk mencari obat. Ada yang datang mencari kesembuhan, ada yang mencari istirahat, dan ada pula yang mencari alasan agar tidak bisa ikut pelajaran.

Mandra menutup bukunya.
Istirahat selesai. Bel masuk berbunyi. Agus bergegas lari keluar kelas.
“Lho, Gus, bel masuk kok malah pergi?” kata Mandra.
“Aku mau ke UKS. Pusing mikirin pelajaran Akidah, Ndra.” [RA]
MAN, 22-23 Juni 2026