Riset MRI #004 Hukum Kekekalan Pulpen: Dari Kelas ke Akhirat
Rif’an Anwar
Senin: Mandra baru saja membeli pulpen legendaris hitam merk Pilot. Katanya daya tahan tintanya kuat sampai yaumul qiyamah.
Rabu: Saat pelajaran Fikih baru dimulai, pulpen itu lenyap. Hanya tersisa tutupnya yang kesepian di atas meja.
Ini memicu jiwa detektif-peneliti Mandra untuk bergerak. Sebagai anak MIPA yang bercita-cita masuk jurusan Agama, ia tahu betul Hukum Kekekalan Massa: massa tidak pernah hilang, hanya berubah bentuk. Hukum itu dicetuskan Antoine Lavoisier.
Dan hari itu, Mandra menemukan hukum baru.
Pulpen itu tidak pernah keluar dari ruang kelas ini saat pembelajaran. Rute hidup pulpen hanya di tas, rumah, kelas. Tapi bagaimana bisa tiba-tiba menghilang? Secara logis, ini adalah hal yang mustahil.
Berangkat dari Hukum Kekekalan Massa di atas, Mandra meyakini ada Hukum Kekekalan Pulpen: jumlah pulpen di satu kelas sebenarnya selalu sama. Mereka tidak musnah, melainkan hanya berpindah kepemilikan dari siswa yang rajin beli, ke siswa yang rajin pinjam.
Untuk membuktikan hukum tersebut, Mandra melakukan pengamatan diam-diam selama tiga hari. Ia berhasil mengklasifikasikan siswa-siswi di kelasnya dalam tiga spesies utama:
Pertama, Spesies Pinjem Sopan Balikin Lupa (PSBL). Ini adalah tipe teman yang saat meminjam pulpen wajahnya sangat tulus: “Ndra, pinjam pulpen bentar buat nyatet tugas, ya?”
Namun, begitu bel istirahat berbunyi, pulpen tersebut otomatis masuk ke kantong celananya akibat refleks bawah sadar yang akut. Saat ditagih keesokan harinya, ia akan menjawab tanpa dosa, “Lho, bukannya sudah tak balikin pas istirahat kemarin?”
Kedua, Spesies Predator Tutup Pulpen (PTP). Spesies ini sebenarnya jujur karena pulpen selalu kembali. Sayangnya, pulpen kembali dalam kondisi mengenaskan. Tutupnya penuh gigitan, bahkan sebagian patah. Secara estetika, pulpen tersebut sudah kehilangan harga dirinya.
Ketiga, Spesies Lubang Gaib. Sesosok hitam mendekati pulpen dan sejak saat itu, pulpen malang itu pergi entah ke dimensi gaib mana dan tidak pernah ditemukan lagi sampai hari kelulusan tiba.
Karena pas lagi pelajaran Fikih, kurang afdol kalau Mandra tidak mengait-ngaitkannya dengan hukum Fikih. Ia teringat materi tentang Bab Ghasab. Yaitu tindakan menggunakan atau mengambil hak orang lain tanpa izin, tetapi tidak berniat untuk memilikinya secara permanen (mencuri). Kalau ada unsur mencurinya, itu hanya karena lupa mengembalikan selama tiga semester. Tidak ada niat mencuri sama sekali.
Mandra langsung teringat nasib pulpen-pulpennya. Jangan-jangan kelas ini bukan kelas biasa. Jangan-jangan ini adalah laboratorium ghasab terbesar di MAN Kota Magelang.
Ia pun melakukan kalkulasi matematis dosa di kepalanya: Kalau satu kelas ada 30 siswa, dan minimal ada lima orang yang melakukan ghasab pulpen setiap hari, berapa jumlah dosa yang terjadi dalam kelas ini selama satu semester?
Mandra coba menghitung. Tapi rumusnya apa. Ia hanya hafal P × l × t dan rumus mencari luas lingkaran. Tidak satu pun membahas luas dosa akibat ghasab pulpen. Ia menyerah. Ini di luar batas kemampuannya.
Saat jam kosong, ia mendiskusikan masalah ini dengan teman sebangkunya.
“Menurutmu gimana, Gus” tanya Mandra.
“Santai saja, Ndra,” balas Agus. “Anggap saja itu sedekah jariyah. Selama tintanya dipakai buat nyatet hadits atau rumus matematika sama temenmu, pahalanya kan ngalir terus ke kamu!”
Mandra kaget mendengar jawaban Agus. Benar juga. Panen pahala ini. Masuk akal juga pendapat Agus. Tapi setelah dipikir-pikir, teori sedekah ini punya cacat secara akademis.
“Pahalanya memang ngalir ke aku, Gus” Mandra protes. “Tapi kalau pas ujian aku gak bisa nulis karena pulpenku dighasab, yang dapet nilai A kan dia, bukan aku!”
“Bener juga kamu, Ndra.”
“Dan lagi. Aku memang dapat pahala dan bisa masuk surga. Lha teman kita bisa-bisa masuk neraka karena dosa ghasab.”
Percakapan itu membuat Mandra berpikir lebih jauh. Setelah tiga minggu penelitian, ia menemukan sesuatu yang aneh. Pulpen yang hilang ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Hari ini seseorang kehilangan pulpen. Besok ia menemukan pulpen yang entah milik siapa. Minggu depan pulpen itu berpindah lagi ke orang lain.
Pulpen-pulpen itu terus berputar dari satu meja ke meja lain seperti sedang mengikuti program pertukaran pelajar.
Saat itulah Mandra makin yakin dengan Hukum Kekekalan Pulpen. Pulpen tidak pernah musnah. Pulpen hanya berpindah tangan.
Namun penemuan terbesar Mandra bukanlah tentang pulpen. Melainkan tentang manusia. Ternyata manusia sangat mudah mengingat barang yang hilang miliknya sendiri. Tetapi sering lupa bahwa ia juga pernah membawa pulang barang milik orang lain. Kita sangat cepat merasa menjadi korban. Tetapi sangat lambat mengakui bahwa kadang-kadang kita juga pelakunya.
Beberapa hari kemudian, penelitian Mandra akhirnya mencapai titik terang. Pulpen hilang miliknya yang selama ini dicari berhasil ditemukan. Masalahnya, pulpen itu ditemukan di dalam tas Mandra sendiri. Terselip di balik buku Fikih.

Penelitian pun resmi ditutup.
Dan Mandra menyimpulkan bahwa tidak semua pulpen yang hilang disebabkan oleh ghasab. Kadang pemiliknya sendiri yang terlalu berbakat menyembunyikan barang.
Sejak saat itu Mandra berhenti menuduh teman-temannya. Setidaknya sampai pulpen berikutnya hilang. Dan dia tidak tahu pulpen milik siapa.
MAN, 11-20 Juni 2026