Riset MRI#007 Kursi Ajaib Pengubah Jiwa
Rif’an Anwar
Setelah menyelesaikan penelitian tentang Kacamata Setelan Pabrik, Mandra merasa sedikit lega. Kini ia memahami bahwa rasa suka dan benci dapat mempengaruhi cara manusia memandang dunia. Namun, peristiwa menjelang peringatan hari kemerdekaan membawanya kepada jawaban lainnya.
Waktu itu, Pengurus OSIS sedang mengadakan acara Lomba Agustusan. Faza yang berdiri di koridor kelas, menunjuk-nunjuk panitia OSIS sambil teriak-teriak. Faza adalah siswa yang terkenal vokal. Tidak ada kegiatan sekolah yang lolos dari kritiknya. Ia adalah pembela kebenaran versi dirinya sendiri.
“Dasar OSIS nggak becus! Anggaran besar tapi lombanya cuma futsal sama tarik tambang! Ngebosenin! Transparansi dananya mana? Ini namanya pemborosan kuota energi kreativitas siswa! Kalau aku jadi panitia, gak akan se-amatir ini!” teriak Faza menggebu-gebu. Mandra mencatat kritik tajam itu dalam buku MRI.
Menurut Faza, lomba Agustusan terlalu monoton. Panitianya kurang kreatif. Jadwalnya berantakan. Pengumumannya telat. Dan yang paling penting, kalau dirinya yang menjadi panitia, semua masalah itu pasti bisa diselesaikan.
“Kalau aku jadi panitia, lombanya bakal jauh lebih seru,” kata Faza.
“Apa contohnya?” tanya Mandra.
“Banyak.”
“Misalnya?”
“Nanti tak pikir dulu.”
Sebagai peneliti muda yang objektif dan tidak suka mencari musuh, Mandra mencatat pernyataan itu dalam buku MRI miliknya.
Menurut Mandra, Faza memiliki kemampuan langka. Ia bisa menemukan sepuluh kesalahan dalam sebuah kegiatan hanya dengan melihatnya selama lima menit.
Kemampuan seperti ini biasanya dimiliki oleh pengamat sepak bola, netizen, dan penumpang bus yang merasa lebih pintar daripada sopir.
Roda nasib berputar. Di tahun ajaran baru, Faza secara mengejutkan terpilih menjadi Ketua Panitia Lomba Agustusan. Dia sekarang berada “di dalam sistem”, menduduki kursi penuh kuasa di ruang rapat.
Mandra sengaja menunggu momen ini. Ketika acara lomba garapan Faza berjalan, ternyata jenis lombanya tetap sama: futsal dan tarik tambang. Bahkan, jadwal pertandingannya banyak yang ngaret karena masalah teknis.
Hari pertama, jadwal lomba molor tiga puluh menit. Hari kedua, pengeras suara mati. Hari ketiga, pertandingan futsal sempat tertunda karena bola futsal berubah jadi bola bekel.
“Za,” kata Mandra sambil membuka buku catatannya. “Boleh wawancara sebentar?”
“Boleh.”
“Dulu kamu bilang lomba futsal membosankan.”
“Iya.”
“Sekarang kok masih ada futsal?”
“Ndra, kamu harus memahami persoalan secara komprehensif.”
Mandra melongo. Jiwa penelitinya bergetar melihat kecepatan Faza membalikkan logika hanya karena perpindahan posisi bokong dari kursi siswa ke kursi ketua.
Faza melanjutkan.
“Dulu aku belum tahu kondisi lapangan. Sekarang aku tahu. Mengatur jadwal itu susah. Menyesuaikan guru itu susah. Anggaran terbatas. Waktu terbatas. Situasi tidak sesederhana yang kelihatan.”
Mandra mengangguk pelan. Kalimat-kalimat itu terdengar sangat masuk akal. Masalahnya, tahun lalu Faza justru menolak semua alasan yang sama. Ketika berada di luar, seseorang akan menjadi pengkritik. Ketika berada di dalam, ia berubah menjadi pihak yang dikritik.
Dan yang paling menarik, seringkali kedua orang itu adalah orang yang sama. Mandra mulai bertanya-tanya: apakah ini hanya terjadi pada Faza? Atau ini adalah penyakit universal? Mandra mulai memperhatikan gejala serupa di tempat lain.
Saat menjadi siswa, orang mengeluh tentang guru. Ketika menjadi guru, mereka mengeluh tentang siswa.
Saat belum mendapat jabatan, mereka kritis dan penuh ide. Begitu mendapat jabatan, daya kritis menurun. Mereka baru tahu bahwa ide punya biaya, waktu, tenaga, dan konsekuensi.
Fenomena ini membuat Mandra semakin penasaran. Sore harinya ia menemui Pak Yusyik.
“Pak, kenapa orang sering berubah setelah mendapat posisi?”
Pak Yusyik tersenyum.
“Karena melihat masalah dari luar dan dari dalam itu berbeda, Ndra.”
“Maksudnya, Pak?”
“Dari luar, kita hanya melihat hasil. Dari dalam, kita melihat kerumitannya.”
Pak Yusyik mengambil contoh sederhana.
“Menonton pertandingan sepak bola itu mudah. Semua orang tahu kapan pemain harus mengoper, kapan harus menembak, dan kapan harus bertahan.”
“Betul, Pak.”
“Tapi begitu disuruh main sendiri, baru tahu kalau lari lima menit saja sudah seperti mau bertemu malaikat.”
Mandra tertawa. Masuk akal juga.

“Ndra,” Pak Yusyik melanjutkan, “justru karena posisi bisa mengubah cara kita melihat sesuatu, Islam mengajarkan agar setiap posisi dipandang sebagai amanah.”
“Maksudnya, Pak?”
“Ketika kamu berada di luar, kamu bebas menilai. Tapi ketika kamu duduk di kursi ketua, kamu tidak hanya mendapatkan hak untuk mengatur. Kamu juga mendapatkan amanah untuk mempertanggungjawabkan keputusanmu.”
Pak Yusyik berhenti sebentar.
“Rasulullah mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Jadi, menjadi ketua panitia lomba tarik tambang pun bukan sekadar dapat kursi dan tanda tangan. Ada amanah di sana.”
“Jadi masalahnya bukan cuma bagaimana melihat dari dalam, Pak?”
“Betul. Setelah masuk ke dalam, jangan sampai kamu memakai kesulitan sebagai alasan untuk membenarkan semua kesalahanmu. Memahami sulitnya pekerjaan membuatmu lebih bijak dalam menilai orang lain. Tapi jangan sampai membuatmu berhenti memperbaiki diri.”
Malam harinya, ia membuka kembali buku MRI miliknya. Lalu menuliskan kesimpulan penelitian:
Orang yang berada di luar seringkali terlalu mudah mengkritik karena tidak melihat seluruh persoalan.
Orang yang berada di dalam seringkali terlalu mudah membela karena terlalu dekat dengan persoalan.
Yang satu tidak melihat kerumitan. Yang satu lagi tidak mau melihat kesalahan.
Keduanya bisa sama-sama keliru.
Karena itu, kebenaran sering tersembunyi di antara keduanya.
Mandra menutup bukunya perlahan. Kini ia mulai memahami sesuatu. Mungkin itulah sebabnya menjadi adil sangat sulit. Sebab manusia jarang melihat dunia apa adanya. Mereka melihat dunia dari tempat mereka berdiri. Dan tempat berdiri itu bisa berubah sewaktu-waktu.
Sejak hari itu, Mandra tidak lagi terlalu cepat mengkritik panitia. Bisa jadi suatu hari nanti dia terpilih menjadi ketuanya dan justru lebih buruk dari mereka.
Mandra lalu memandangi kursi ketua panitia yang kosong di ruang OSIS. Kursinya terlihat biasa saja. Ajaibnya, banyak manusia memang berubah setelah duduk di atasnya.
MAN, 13 Juni – 12 Agustus 2026