Riset MRI #013. Racun Berlabel Madu: Batas antara Cinta dan Pengkhianatan
Ulangan ASTS hari itu PJOK. Agus minta jawaban ke Surya dengan dalih “solidaritas kawan seiman”.
Surya menolak memberi jawaban.
Agus menuduh Surya pelit dan tidak punya rasa setia kawan.
“Mana janji persahabatan kita, Sur? Masuk surga bareng, masa ulangan remedi sendiri?”
“Gus, kata pak Kiai, kita dilarang tolong menolong dalam keburukan.”
“Kalau nilaiku buruk, berarti kita membiarkan keburukan merajalela. Itu dosa, Sur.”
Pak Dayat yang dapat jadwal ujian hari itu sudah membagikan soal di web Diajeng dan meminta untuk tenang.
Agus makin bertambah pusing melihat soal yang isinya gambar dan ukuran lapangan voli dan sepakbola. Agus minta jawaban.
“Sur, nomor lima,” Agus masih semangat melobi.
“Enggak.”
“Kamu tega. Persahabatan kita diuji hari ini.”
Surya tetap diam. Agus mulai memainkan drama.
“Di buku tahunan nanti aku tulis: ‘Surya. Sahabat terbaikku. Kecuali saat ulangan.’”
Mandra mengamati adegan Agus dan Surya itu dengan bingung. Apakah menolong kawan saat ulangan itu bentuk rasa kasihan (kasih sayang), atau bentuk perusakan?
Agus melanjutkan aksinya dengan mengintip jawaban Surya yang duduk di depannya. Pak Dayat mengendus adegan berbahaya itu dan mengambil HP Agus.
“Gus.”
“Iya, Pak…”
“Kamu tahu kesalahanmu?”
Agus menunduk.
“Mencontek, Pak.”
Pak Dayat menggeleng.
“Itu baru gejalanya.”
Agus mengangkat kepala.
“Yang pertama, kamu sedang mengkhianati dirimu sendiri.”
Agus bingung.
“Orang yang mencontek memang dapat jawaban. Tapi kehilangan kesempatan menjadi lebih pintar. Nilai naik. Kemampuan tidak.”
Pak Dayat meletakkan HP Agus di meja depan.
“Yang kedua, kamu juga mengkhianati gurumu.”
“Lho kok guru juga, Pak?”
“Kalau nilaimu bagus karena mencontek, saya mengira kamu sudah paham. Besok saya mengajar materi berikutnya. Padahal materi sebelumnya masih blong. Akhirnya siapa yang rugi?”
Agus terdiam.
“Kalau kamu berbohong kepada dokter tentang penyakitmu, dokter akan memberi obat yang salah. Kalau kamu berbohong kepada guru lewat nilai, guru juga akan memberi pelajaran yang salah. Guru tidak bisa memperbaiki cara mengajarnya kalau muridnya berbohong.”
Suasana kelas sunyi.
“Lalu berikutnya…”
Agus mulai pasrah untuk menerima hukuman.
“Kalau kamu anak saya…”
“Iya, Pak?”
“Saya suruh lari muter lapangan.”
“Berapa putaran, Pak?”
“Sampai terdengar bunyi terompet Israfil.”
Sekelas tertawa.
Agus menelan ludah.
“Pak… itu berarti sampai kiamat.”
Pak Dayat mengangguk.
“Ya. Supaya kakimu capek dan otakmu bisa mulai bekerja.”
Sekelas tertawa tambah keras.
“Surya tadi tidak mau memberimu jawaban,” lanjut Pak Dayat.
“Iya, Pak.”
“Menurutmu dia teman yang buruk?”
Agus spontan menjawab,
“Iya…”
Pak Dayat menggeleng.
“Justru dia teman terbaikmu. Karena dia lebih memilih kamu marah hari ini daripada bodoh selamanya.”
Waktu ujian habis. Mandra baru memahami sesuatu. Selama ini ia mengira persahabatan adalah selalu berkata “iya”. Siang itu ia belajar bahwa kadang-kadang bentuk kasih sayang yang paling tulus justru berupa sebuah penolakan.
Selesai ujian siang itu, Mandra menemui Pak Dayat karena masih ada yang mengganjal di kepalanya.
“Pak. Kalau membantu teman saat ujian salah, kenapa membantu teman belajar sebelum ujian justru baik?”
Pak Dayat menjawab sangat khas.
“Gampang.”
Beliau mengambil barbell.
“Kalau saya ingin otot anakku kuat, apa saya yang angkatkan semua bebannya?”
“Tidak, Pak.”
“Kenapa?”
“Nanti ototnya tidak berkembang.”

Pak Dayat menatap Mandra.
“Tapi, kalau saya yang mengangkat bebanmu ketika latihan, kamu memang tidak capek. Tapi kamu juga tidak kuat.”
“Dalam kasus belajar sebelum ujian,” beliau menunjuk soal ujian. “Kamu hanya membantu belajar. Yang belajar dan mengerjakan ujian tetap temanmu. Tapi kalau kamu membantu saat ujian karena kasihan, itu beda lagi. Kasihan yang melemahkan itu bukan kasih sayang, Ndra. Itu racun yang ditempeli label madu.”
Mandra meninggalkan Pak Dayat dengan pikiran plong. Ia menulis di buku MRI.
Hipotesis #013
Tidak semua bantuan adalah kasih sayang. Bantuan yang menghilangkan kesempatan seseorang untuk bertumbuh sebenarnya sedang melemahkannya.
Agus tiba-tiba datang dengan tergesa.
“Ndra, ujian Matematika besok kamu harus bantu aku,” pinta Agus memelas.
“Tidak, Gus. Nggak boleh.”
“Emang ngapa sih nggak boleh? Sombong amat,” potong Agus.
“Apa kamu tidak belajar dari peristiwa hari ini dengan Surya dan Pak Dayat. Kamu memang bisa dapat nilai bagus, tapi itu justru menghancurkan dirimu sendiri di masa datang.”
“Berarti sekarang aku punya tiga musuh.”
“Siapa?”
“Pak Dayat, Surya, sama kamu.”
Lalu Mandra tertawa.
“Bukan, Gus. Kami justru orang yang paling sayang sama kamu.”
Agus menelan ludah.
“Iya. Tapi kok orang yang paling sayang selalu orang yang paling bikin hidup ini susah. Rasanya malah kayak sedang dibenci.”
“Kamu mungkin sebaiknya memang diracun saja, Gus,” kata Mandra sambil tertawa. [RA]

Ngleter-MAN, 25 Juli-4 Agustus 2026