Riset MRI#015. Push-up Penggugur Dosa

“Anak-anak, luruskan barisan. Lurus seperti Shirothol Mustaqim!” teriak Pak Hisam.
Seluruh siswa panik kegirangan merapikan barisan.
“Anak-anak, ingatlah pepatah Arab, al-aqlu as-salim fi al-jism as-salim, akal yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat. Oleh karena itu, kalian harus semangat olahraga.”
“Pak, kita mau pelajaran olahraga atau agama?” sela Agus.

“Gus,” kata Pak Hisam. “Push-up 20 kali!”
Agus megap-megap melakukan push-up 20 kali di atas semen lapangan yang panas. Sembari Agus dihukum, Pak Hisam melanjutkan materinya.
“Murid-murid, mengajar di lingkungan madrasah itu luar biasa. Beda dengan yang non madrasah. Jika guru matematika di tempat lain hanya mengajari siswa-siswinya cara menghitung luas segitiga, besar sudut-sudutnya, Guru matematika kita beda. Mereka tidak hanya mengajari menghitung luas segitiga, tapi juga mengajari cara menghitung amal perbuatannya. Guru olahraga di madrasah juga begitu. Siswa-siswi tidak hanya diajari cara membakar kalori melalui olahraga. Mereka juga diajari cara membakar dosa-dosa mereka! Paham kamu, Gus!”
Agus plonga-plongo sambil masih megap-megap.
“Malah plonga-plongo. Tambah sepuluh lagi, Gus!”
“Paham, eh, siap, Pak!”

Pelajaran pun dilanjutkan dengan semangat dan suka cita. Tapi tentu ada beberapa siswa yang tetap setia dengan pakem mereka. Inilah yang memicu Mandra untuk melakukan observasi tipe-tipe siswa saat olahraga.
Agung (Tipe Atletis): selalu melakukan lebih dari yang diminta. Diminta lari keliling lapangan malah lari dari kenyataan.
Agus (Tipe Oportunis): Mencari celah agar hitungan lari keliling lapangannya didiskon oleh temannya yang bertugas mencatat.
Wanto (Tipe Logistik): Berlari bukan demi kesehatan, tapi demi percepatan akselerasi menuju gerobak es teh kantin saat bel istirahat berbunyi.
Faza (Tipe Demonstran): Sebelum olahraga dimulai sudah protes karena lapangan tidak memenuhi standar FIFA.
Bahrul (Tipe Mistis): Berdiri di pojok lapangan di bawah bayangan pohon, merenungi mengapa manusia harus memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lain hanya untuk berkeringat.
Semua kelakuan temannya Mandra observasi dengan teliti. Ia ingin menguji peribahasa Arab tersebut: Al-aqlu as-salim fi al-jism as-salim.
Pelajaran olahraga Pak Hisam selesai di jam ke-4. Begitu masuk jam ke-5, pelajaran Matematika, kondisi kelas berubah total: wangi karbol toilet kalah telak oleh aroma keringat matahari dari 30-an siswa yang belum sempat mandi.
Bukannya jadi pintar karena badannya habis olahraga, otak anak-anak malah shutdown. Mereka mengantuk massal, lemas, dan kelaparan. Badannya sehat, tapi akalnya pingsan.
Mandra yang bingung mengapa peribahasa Arab itu tidak manjur di kelasnya, ia berencana menemui Pak Yusyik saat jam istirahat kedua.
Tapi ia tidak bisa menemukan Pak Yusyik. Kata guru lain, beliau sedang cuti menemani putranya yang baru berusia tiga tahun belajar bernapas secara mandiri.
Mandra pun duduk di bawah pohon lidah buaya favoritnya dan merenung. Ia membuka buku MRI-nya dan menulis: “Kalau benar akal sehat berada dalam tubuh sehat, kenapa habis olahraga seluruh kelas justru berubah menjadi zombie? Apa pepatah Arab ini salah?”
Ia mengamati Agus yang masih megap-megap, Wanto yang sudah memegang es teh, dan Bahrul yang masih merenung di pojok lapangan. Lalu ia tersenyum.
Mandra harus memikirkan masalah ini sendiri. Peribahasa itu mungkin tidak salah. Maksudnya, olahraga itu melatih jiwa untuk disiplin dan sabar menghadapi proses yang berat. Masalah akal jadi tumpul setelah olahraga, itu bukan salah olahraganya, tapi karena siswanya setelah lari langsung minum es teh dua plastik dan makan gorengan lima biji. Itu namanya overload logistik.
Pepatah Arab itu tidak salah. Di madrasah, pelajaran olahraga tidak hanya sekadar mengolah fisik agar berotot, melainkan sebuah latihan spiritual tingkat tinggi.
Olahraga melatih Agus untuk jujur dalam hitungan push-up, melatih Wanto untuk sabar mengantre es teh, dan melatih Bahrul menerima kenyataan bahwa memindahkan bola dari satu sisi lapangan ke sisi lain ternyata memang mata pelajaran. Olahraga juga melatih seluruh siswa untuk tetap bertahan hidup menghadapi rumus Matematika di jam kelima dengan kondisi baju yang masih basah oleh keringat.
Mandra menutup buku MRI.
Hari itu ia menyimpulkan satu hal: olahraga memang membuat badan sehat. Hanya saja, badan yang sehat belum tentu langsung membuat akal sehat. Tubuh dan akal sama-sama perlu dilatih dan diberi waktu untuk pulih.
Kalau setelah olahraga lalu ditambahi dua plastik es teh dan lima gorengan, guru Matematika pun akan merasakan seperti sedang mengajar tiga puluh mayat hidup sekaligus. [RA]
MAN, 25 Juni 2026